Selamat Bergabung

Kadang-kadang usilnya nggak ketulungan..tapi kadang-kadang,jahilnya kebangetan.Penuh canda tawa,suka duka dan kebersamaan diantara mereka selama 3 tahun ini.Dibumbui kisah persahabatan dan juga percikan asmara.Bagaimana jadinya?

Banner this blog

Tampilkan postingan dengan label Insiden mendebarkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insiden mendebarkan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 27)



Jiah… Gue disuruh masuk barisan khusus. Gue bakalan dihukum lagi nih gara-gara keteledoran gue. Padahal, gue belum pernah masuk barisan itu, insiden ini bakal ngejatohin imej gue sebagai siswa baik nih.
“Ada diatas kayaknya Pak. Saya ambil sebentar yah Pak.” Ujar gue meminta.
“Nggak ada waktu. Upacara udah mau dimulai. Cepat masuk kebarisan.”
Hiks.. Tega bener nih. Mau taruh dimana nih mukaku ini (Di cover majalah aja lah). Dengan setengah hati, akhirnya gue berjalan menuju barisan khusu itu. Dan disitu juga ada beberapa anak badung lain yang udah dibariskan dengan rapi disitu. Gawat nih, Koko dan Cece gue ngelihat gue lagi, bakal diaduin neh ke Emak. Apalagi Cece gue ember banget hidungnya, eh mulutnya. Setelah setengah jam, akhirnya kelar juga upacara bendera ini. Tapi tidak untukku dan yang lain yang ada dibarisan ini. Pasti akan ada hukuman yang akan menanti. (Aku belum mau mati, tolong jangan tembak atau gantung diriku yang unyu ini #Lebay).
Saat yang dinanti tiba juga, Pak Yan datang menghampiri barisan kami ini dengan wajah sumringah bertabur ceria, Ya nggaklah, pasti dengan wajah tegasnya. Apalagi nih yang bakal gue dapet, belum kelar juga hukuman gue ma temen-temen gue yang lain yang harus datang waktu Minggu tiba untuk ngerbersihin lingkungan sekitar Bakti ini , eh datang lagi hukuman lainnya. Hufh… Nampaknya Dewi angin-angin mulai menjauh dari gue.
“Kalian sudah tahu kan kalau hari senin, kalian harus memakai atribut lengkap?”
Kami diam tak bergeming, entar kalau gue nyahut malah kepanjangan lagi, yang ada gue malah bakal digantung entar. Hihihi..
“Kenapa kalian diam saja?”
“Tahu pak.” Ujar yang lain, sementara itu gue hanya lipsinc mangap-mangap ajang ngikutin gerak bibir yang lain. Niatnya sih mau sesukses SintaJojo. Hihihi
“Kalau kalian tahu kenapa masih nggak mematuhi itu semua? Bapak akan Tanya satu-satu alasan kalian.”
“Mulai dari Chika kemudian bergeser kekanan.”
“Saya lupa Pak.” Ujar Chika
“Saya lupa juga pak.” Ujar salah seorang siswa cowok senior ikut-ikutan.
Dan yang selanjut dan selanjut lanjutnya juga alasan demikian. Mereka nggak kreatip banget kan? Ckckck. Zaman sekarang masih trend yah ikut-ikutan seperti mereka itu? Hihihi. Namun, tiba pada salah satu siswa kelas 2 lainnya.
“Dasi saya dimakan kucing saya pak?”
“Hah, kok bisa?” gue dan yang laen berujar hampir kompakan.
“Yah bisa dong. Kucing gue itu omnivora,  jadi semua barang yang dia kira makanan bakal diembat ama dia. Hebat kan kucing gue?”
Gue hanya bisa nyengir kuda aja ngedenger ucapan tuh bocah, punya kucing gitu kok bangga. Lihat kucing gue dong, walau dia nggak pemilih, tapi nggak pernah makan sembarangan. Gue kasih ikan dia mau, gue kasih ayam dia mau, gue kasih kalkun dia tambah mau, gue kasih sandal,eh dia nggak mau. Pinter kan kucing gue? *Lah,kenapa bisa jadi ngomongin kucing?
“Apa benar, kucing kamu yang makan dasimu Albert?” Tanya Pak Yan curiga.
“Bener kok pak.”
“Kalau begitu, besok kamu bawa kucing kamu ke sekolah. Bapak pengen kasih dia makan dasi yang banyak.”
“Hah?” Dia terbengong-bengong mendengar respon kepala sekolah kami itu.
“Kucingnya udah mati kok Pak!” Ujar Albert menggaruk-garuk kepalanya.
“Kucingnya sudah mati atau memang kucingnya tidak pernah makan dasi kamu?” Ujar Pak Yan dengan nada meledak-ledak.
Kena lu Bert.. Makanya, jangan coba-coba untuk ngibulin Kepsek kita. Wong buaya dikadalin, mana bisa lah yaw. Kecuali kalau kadal dibuayain, mungkin baru bisa.Hihihi.
Tiba digiliran gue buat ngasih jawaban ke Kepsek kami itu,y ah gue kasih alasan yang tadi pagi. Gue sebenernya bawa, tapi gue lupa pakai aja. Kalaupun disuruh menunjukan bukti otentiknya, gue siap kok. Akhirnya gue dibiarkan kembali ke kelas tanpa pembuktian, Pak Yan memang hebat, bisa membedakan mana yang jujur dan mana yang bohong.
Gue pun bergegas kembali ke kelas, berat juga rasanya ketika naik tangga, padahal sih, kelas gue letaknya ada di lantai 2. Cuma naek sekitar 20-an anak tangga doang. Tapi, entah kenapa, sakit kepala gue yang gue entengkan tadi pagi tiba-tiba jadi masalah baru buat gue. Kepala gue ini rasanya amat berat banget, padahal gue lagi di anak tangga sekarang ini. Mata gue rasanya sangat berat sekali dan badan ini rasanya seperti mau oleng. Penglihatan gue jadi buyar dan gelap seketika.
Ketika gue bangun, gue udah berada disebuah tempat yang bisa gue pastikan, tempat ini bukanlah sekolahan gue. Apa gue udah berada di surga? Apa gue udah nggak ada lagi didunia ini.
“Lex.. Kamu udah sadar Nak?” Suara itu memanggil gue dengan suara bergetar seperti baru saja menangis.
Suara itu terdengar sangat familiar, rupanya itu adalah suara Emak gue. Bahagianya gue, gue masih hidup, sampai gue nggak bisa berkata-kata lagi. Gue langsung peluk emak gue saat itu. Emak gue  terbengong-bengong ketika gue peluk, karna nggak biasanya gue bisa peluk nyokap gue sendiri.
“Kamu kenapa bisa jatoh dari tangga sih Lex? Kamu tau nggak, Mama panik sekali ketika sekolah kamu nelfonin Mama dan ngabarin bahwa kamu dibawa kerumah sakit.”
“Alex nggak tau Ma. Tiba-tiba aja pas di tangga, Lex ngerasa kepala Lex terasa berat banget. Dan tiba-tiba aja semuanya jadi gelap. Setelah itu, Alex nggak inget lagi.”
Bapak kepala sekolah gue tiba-tiba masuk ke ruangan gue.
“Tadi Alex jatuh dari tangga Bu. Mungkin dia lagi sakit. Sebelumnya sempat upacara dan masuk barisan khusus, mungkin karna itu dia jadi kecapekan dan akhirnya jatuh dari tangga. Kami pihak sekolah sempat khawatir sekali, karna begitu jatuh dari tangga darah dari kepalanya nggak berhenti mengalir. Oleh karna itu, Alex langsung kami bawa ke rumah sakit. Untungnya ada siswa kami yang cepet nemuin Alex di tangga, kalau nggak, mungkin akan sangat fatal akibatnya.”
“Siapa Pak?.” Tanya gw masih dengan suara lemes.
Nampaknya, Pak Yan nggak ngedengerin pertanyaan gw nih. Huh.. Agak sebel juga sih.
“Kamu tahu, kamu sudah seminggu nggak sadarkan diri.” Ujar Emak gue.
“Hah?” gue bener-bener nggak percaya tentang fakta yang baru gue denger tadi. Gue udah seminggu disini dan udah nggak sadarkan diri selama itu. Dalam artian, gw koma. Bener-bener nggak dapat dipercaya, rasanya kejadiannya itu baru 5 menit yang lalu. Mungkin perasaan gue aja kali yah.
“Teman-teman kamu baru aja pulang tadi. Dari hari pertama kamu masuk rumah sakit, mereka bergantian datang menjenguk kamu. Tadi saja mereka baru keluar dari sini.”
“Oh ya Bu. Saya pamit dulu, kebetulan temen-temen Alex yang tadi, saya yang antar pakai mobil dinas sekolah. Kami harus kembali lagi ke sekolahan.”
“Baik Pak. Terima kasih karna sudah mau menjenguk alex.”
“Alex.. Kamu cepat sembuh yah supaya bisa balik lagi kesekolahan.” Pak Yan pun berlalu dari kamar rumah sakit gue dirawat ini.
Hari ini juga akhirnya gue bisa kembali ke rumah gue tercinta, tapi akibat peristiwa kemaren itu, gue mesti pake tongkat untuk saat ini.S edihnya idup gue, belum lama gue masuk sekolah, udah dapet musibah kayak gini. Sekarang gue jadi berkaki empat (diitung dengan tongkat XD). Tapi nggak apa-apa, gue udah bersyukur banget, karna gue masih dapet idup ampe saat ini. Gue masih diberkati sama yang di Atas.
Esoknya, gue udah mulai sekolah seperti biasanya lagi. Selasa pagi yang terasa lebih berwarna dari biasanya, mungkin karna gue bersyukur atas hidup yang masih Tuhan kasih buat gue. Tapi permasalahannya sekarang ini, gue kan yang biasanya ngebonceng Cece gue, nah sekarang kayak gimana? Masa gue bonceng Cece gue dengan keadaan kayak gini. Kan nggak lucu..
“Biar Randy aja Ma yang bonceng adek. Biar Silvi dibonceng sama ravel aja.”
“Serius kamu Ran?”
Nggak hanya emak gue yang heran, gue aja terbengong-bengong ama hal ini. Nggak biasanya koko gue yang satu ini baek ma gue. Tapi gue bersyukur ajalah, jika peristiwa ini bisa mendekatkan gue ama dia. Karna, hubungan gue ama koko gue kan nggak begitu baik selama ini.

Kamis, 28 April 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 21)



Suasana kelas benar-benar jadi mencekam saat itu, semua siswa termasuk Gue tercengang dengan perubahan drastis guru Akuntansi kami sendiri, benar-benar bikin merinding bulu kuduk. Dan yang mungkin tidak Gw sangka-sangka, adalah selama ini Guru Akuntansi kami itu dikenal humoris dan pecicilan, tapi ternyata kalau udah marah seperti macan yang mengamuk. Serem banget dah, asli, jangan bikin dia marah deh. Atau kalau nggak bisa berakibat fatal seperti Vicko dan yang lainnya. Gw melirik kebelakang sebentar, ngelihat ekspresi para teman-temanku itu, Namun Gue mungkin hanya bisa menatap iba saja, mereka terdiam dan tertunduk di bangkunya masing-masing.
Tak lama kemudian…
“Mungkin kalian semua kaget dengan tindakan Bapak tadi. Sebenarnya, Bapak juga tidak ingin melakukan hal-hal kasar seperti tadi. Tapi kalianlah yang memaksa Bapak melakukan hal kasar tadi.”
Hening… Dan suasana amat teramat sangat hening……
“Tugas ini Bapak berikan setelah kalian pulang latihan gerakjalan, Bapak masih sangat ingat hal ini. Bukan begitu Alex.”
Lha kok nama Gue yang malah disebut-sebut, pengen jawab ‘Iya’  tapi nggak enak sama yang lainnya, pengen jawab nggak, entar nasibnya sama kayak mereka. Jadi serba salah dan serba susah. Lalu Gue mesti jawab apaan? Dan akhirnya Gue lebih memilih untuk mengangguk setuju saja.
“Kalau kalian bilang kalian tidak mengerjakannya, Bapak tidak akan melakukan hal ini, paling-paling, kalian hanya bapak suruh lari keliling lapangan saja. Tapi alasan kalian sungguh tidak bisa dibenarkan, Jangan karena kalian ikutserta dalam gerakjalan, kalian jadi besar kepala dan menganggap remeh pelajaran,Bapak tidak suka hal itu.Dan Kenapa Bapak nggak mengkasari Irwan padahal ia tidak selesai mengerjakannya?karna setidaknya Ia mau berusaha mengerjakan,walaupun tidak samapai selesai.Masalah kali ini jangan sampai terulang lagi.Kalian mengerti semuanya.”
Lonceng sekolah pun berbunyi kembali seiring dengan selesainya perkataan Pak Is. Pak Is pun berlalu dari kelas kami dan segera menuju kantor.
****
Saat istirahat sekolah.
Semuanya ramai mengelilingi Vicko dan kawan-kawan, menanyakan kesan dan pesan mereka *Lho..kayak seminar saja..Hihihiiii…*. Yang bikin Gue geleng-geleng, ternyata mereka masih bisa tertawa, gokil banget kan, setelah dihukum seperti itu, mereka masih bisa cengegesan. Salut dah ama mereka.
“Wuih… Kepala elu Tin, ditendang kayak bola ma Pak Is, sakit nggak?”Tanya Vivien penasaran.
“Nggak kok.Tadi nggak kena,Cuma kena tembok doang.”
“Ah… Nggak mungkin, Gue lihat kena kepala lu kok tadi.”Martin terdiam atas pertanyaan Vivien lagi. Ia terlihat ragu dan enggan mengungkapkan apa yang ada dalam hati kecilnya *Ce ile,hati kecil*
Menurut gw, malahan nih yah, yang paling parah tuh si Kevin, dia kan duduknya dibelakang Gw, dan ketika pak Is menghantamkan kepalanya ke meja itu bener-bener keras kedengerannya dari posisi tempat duduk gw. Gokil… Kepala orang tuh Pak.. Kalau ampe anak orang gegar otak gimana tuh, kayaknya emang sedikit agak keterlaluan sih kalau menurut gw.
Yah… Kejadiannya sudah terjadi dan apadaya yang bisa mereka lakukan, yang jelas lain kali,udah tau kali yah, jangan membangunkan kancil yang sedang tidur… *kok kancil..bapaknya langsing sih, kalau gajah malah ngeledek jatohnya.. Hihiii*
Gw memanfaatkan waktu istirahat untuk maen ke kelas 1PJ2, Pj tuh kelas Penjualan, kalau di kuliahan namanya Manajemen. Temen-temen SMP Gue kan kebanyakan di kelas itu. Cuma gw aja yang terdampar di kelas Akuntansi dari geng gw waktu SMP. Setelah menaiki tangga satu tingkat, karna memang letaknya dilantai 3, sedangkan kelas gw di lantai2, akhirnya gw tiba juga ke kelasnya si Asan, sohib gw dari SMP. Anaknya banyak nyerocos walau cowok, orangnya supel tapi masih agak childish.. Hihihi… Tapi anaknya asyik, makanya akrab ma gw dari sejak SMP. Baru aja nyampe kelasnya dia, eh bel tanda masuk udah bunyi. Gara-gara kelamaan dengerin curhat Vicko, Kevin dan yang laen nih dikelas tadi. Yah gw pikir nggak apa-apalah lama-lamain dikit. Toh kelas gw juga deket ma kelasnya ini. Akhirnya gw pun ngobrol-ngobrol ama dia. Ngomongin hal-hal yang penting ampe gak penting, meski lebih banyak hal yang nggak penting yang diomongin.. Hahaha…
Dan… Eng ing eng… Gw nggak nyadar kalau diluar kelas tuh udah sepi karna ada Pak Is yang ngontrol ketertiban siswa-siswa. Dan gawatnya lagi, pas Pak Is udah sampe depan kelas 1PJ1 yang sebelahan sama kelas temen gw ini.. Astaga.. Kalau gw kabur keluar kelas gitu aja pasti ketangkep ma Pak Is dong, makanya gw milih dalem kelas aja, sambil sembunyi dibaling tiang kelas yang berada disebelah kiri kelas. Di kelas sebelah tong sampah udah ditendang ampe isinya pada keluar semua gara-gara sampah gak dibuang padahal udah penuh. Nahh pas nyampe ke kelas Asan. Tiba di depan pintu, Pak Is menggebuk Pintu masuk dengan tangannya sendiri, dan berbunyi sangat nyaring.

“Kalian udah Bapak bilang untuk tertib masuk kalau bel udah bunyi.”
Gw makin deg-deg-an, Suer tekewer-kewer, kalau gw ampe ketangkep, bakalan parah banget kayaknya nih, gw pasti dicincang-cincang kayak daging ayam ama tuh Guru. Tuhan, hambamu ini hanya berharap keajaibanmu.
Begonya lagi, tuh anak sekelas nggak bisa diajak kompromi dikit apa, nih sekelas kompak ngelirik kearah gw dan malah sebagian dari mereka senyam-senyum, otomatis dong Pak Is juga ngelirik kearah tiang,tempet Gue sembunyi… Matilah Gue kali ini.