Selamat Bergabung

Kadang-kadang usilnya nggak ketulungan..tapi kadang-kadang,jahilnya kebangetan.Penuh canda tawa,suka duka dan kebersamaan diantara mereka selama 3 tahun ini.Dibumbui kisah persahabatan dan juga percikan asmara.Bagaimana jadinya?

Banner this blog

Rabu, 17 Agustus 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 31)

“Adek lagi bercanda ya?”
“Hah?” Tanyaku mengernyitkan dahi lagi.
“Iya, Adek pasti lagi bercanda.” Ujarnya seraya menahan senyumnya.
“Memangnya kenapa Mas?” Tanya Werry.
“Disini mana ada toilet, ada-ada saja.” Ujarnya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kemudian dia pergi. Meratap kepergiannya, gw dan kelompok gw yang lain ternganga lebar, ampe liur pun bertebaran, Hihihi.
Bener-bener sulit di percaya, bagaimana mungkin nggak ada WC disini? Seharusnya setiap tempat wisata itu harus di lengkapi dengan fasilitas yang lengkap, tapi mengingat tempat ini sepi dan agak berbeda dengan pantai kebanyakan, mungkin bagi sebagian orang udah nggak asing lagi, tapi tetap saja buat gw dan anggota kelompok gw yang lain, ini sangat menyiksa. Lalu kami mesti ganti pakaian dimana? Apa mesti di semak-semak? Kok rasanya nggak etis banget sih.
Akhirnya diputuskan juga, akan ganti pakaian di semak-semak dekat pantai itu. Anggota kelompok gw yang cowok dan cewek pun misah, kan nggak mungkin, ganti bajunya barengan, bisa timbul kedahsyatan nanti. Hihihi..
Setelah selesai berpakaian, kami pun langsung cepat-cepat menuju tempat berkumpulnya kelompok lain, malang tak dapat dihindar, beruntung pun menjauh dari kami, tempat itu tiba-tiba saja sepi, tak terlihat kakak-kakak OSIS itu maupun kelompok lain, pergi kemana sih mereka ini?
Kami pun menuju ke tenda-tenda, tapi mereka pun nggak ada disitu, lantas mereka pergi kemana? Apa mereka meninggalkan kami di pantai yang sepi dan sunyi ini sendirian? #Shock
Dikala keputusasaan dan tak keberdayaan kami itu, tiba-tiba salah satu senior kami datang dan menghampiri kami, tergambar dengan sangat jelas di wajah kami mengenai secercah harapan yang baru saja melintas di hadapan kami.
“Sedang apa kalian disini? Kelompok lain sudah mencari kayu dan ranting kering untuk nanti malam, kalian masih bersantai ria saja disini.”
Astaga, rupanya cuma lagi nyari kayu dan ranting kering aja toh, kami kira mereka meninggalkan kami disini.
“Tunggu apalagi, kalian masih mau bengong disini? Nanti malam kalian masak pake apa kalau nggak pake kayu dan dahan-dahan ranting kering?”
Kami segera bergegas mendengar senior kami itu berkata seperti itu. Kalau Cuma nyari kayu bakar mah kecil, kan pastinya banyak di daerah hutan-hutan dekat pantai seperti ini, nggak usah dicari juga pasti ketemu. Kami pun segera bergabung dengan kelompok lain begitu sesampainya disana. Tapi yang mengagetkan adalah kayu bakar mereka sudah sangat menumpuk, semetara kami masih belum ada sama sekali, mata-mata kami seolah-olah mau keluar begitu mendapati sangat sedikit sekali kayu bakar yang tersisa untuk kelompok kami.
Setelah waktu yang ditetapkan oleh para kakak OSIS itu berakhir, kami kembali dikumpulkan didekat tenda-tenda yang kami bangun.
Kumpulkan semua kayu bakar yang kalian dapatkan di hutan tadi. Kelompok dengan jumlah kayu bakar paling banyak akan mendapatkan rewards special berupa makanan lebih daripada kelompok lain. Kok pada diem saja, applause nya mana nih?”
Kami bertepuktangan riuh menyambut ucapannya kak Jodhie yang binasa saja, ya itung-itung amal ibadah lah. Hihihi.

“Selain kami akan mengumumkan kelompok pengumpul kayu bakar terbanyak, terlebih dahulu akan ada pengumuman kelompok dengan iyel-iyel terbaik dan juga kelompok pembangun tenda terbaik, siapa yang akan memenangkannya? Jangan kemana-mana, kami akan segera kembali dengan hasilnya setelah rembukan dulu.”
“Wuuuuu…” teriakan-teriakan membahana membanjiri kak Jodhi.
Kayak acara di Tipi aja pake ada acara commercial break segala, jadi nggak salah dong neriaki kak Jodhi, toh dia juga kayaknya enjoy aja, sekaligus bisa jadi ajang penyemarak suasana.
“Sudah-sudah.. Sekarang kalian siap-siap bersih diri dulu, hari sudah sore, kata Mama, nggak baik mandi malem-malem.” Ujar Kak Richie coba melucu kali yah.
“Mandi dimana Kak?” Tanya Ventory lagi.
“Mandi di sungai lah, masa mandi dilaut, deket sini ada sungai gitu.”
Lagi dan lagi, kayaknya ni anak takut mandi bareng, padahal mandi bareng gitu kan nggak mesti buka semua, hihihi. Tapi dimklumin juga sih, namanya juga anak cewek yang sedang dalam masa pubertas, kalau cerewet ma biasa aja sih, asal pada waktu dan tempat yang tepat saja.
Jadilah akhirnya, para cewek-cewek itu minta duluan giliran mandi, baru setelah itu para cowoknya. Ya ampun, takut bener sih, mana mungkin juga ngintip-ngintip nggak guna gitu, entar malah jadi bintitan lagi.
Mereka bergiliran sambil menjaga depan akses utama menuju sungai, sebagian mandi dan sebagian lainnya menjaga depan akses tersebut. Begitu juga seterusnya. Kami hanya bisa melihat dari kejauhan karna sama sekali nggak boleh ngedeket ke area itu, padahal area itu bukan milik bapak, ibu, nyokap atau neneknya. Ya… Begitulah cewek dengan segala keegoisannya (Dilempar panci).
Dari bisik-bisik tetangga cowok-cowok deket gw, nampaknya ada yang beritikad tidak baik. Karna, yang gw denger dari situ, ada akses lain menuju sungai itu yang nggak diketahuin oleh para cewek-cewek itu, jadilah para cowok heboh dengan hal ini. Ada yang menggebu-gebu mengajak yang lainnya ngintipin tuh cewek-cewek, ada juga yang melarang. Pokonya suasananya jadi gaduh dan ribut deh.
Akhirnya 3 orang siswa cowok yang nekad tetap berinisiatif untuk melancarkan aksi liciknya, gw perhatiin terus gerak-gerik mereka. Akhirnya gw putuskan untuk melapor pada Kak Jodhie. Kak Jodhie bilang untuk nggak langsung menyergap mereka, karna bisa saja mereka nggak ngaku pas ditanya, jadi ketika mereka akan melancarkan aksinya, barulah kami pergoki berdua, dengan begitu, saat mereka sudah tertangkap basah mereka tidak akan bisa berkilah lagi.
Baru saja gw dan Kak Jodhie mengikuti mereka, tapi tiba-tiba mereka lenyap dari pandangan mata kami.
“Mereka kemana Lex?”
“Nggak  tahu Kak, mereka cepat sekali jalannya. Gimana nih Kak? Apa kita bakal cari mereka bertiga terus.”
“Kamu tahu jalan akses lain menuju sungai?”
“Gw… Eh.. Maksud saya, nggak tahu kak. Kesini aja baru pertama kali.”
“Oke… Kita terus cari mereka sampai ketemu, hal ini tentu membahayakan juga buat para siswa cewek lain. Bisa-bisa, mereka bertiga dilaporkan ke polisi atas tindakan mereka ini.”
“Tapi, kami kan belum 17 tahun Kak, emang sudah bisa dipidanakan yah?”
“Lu… Eh… Maksudnya kamu, belum pernah dengaer penjara untuk anak-anak usia di bawah 17 tahun apa?”
“Belum Kak.”
“Ah… Payah kamu Lex.” Ujar Kak Jodhie terkikik.
“Kita balik aja deh Kak, siapa tahu mereka malah udah balik.” Ujar gw member saran.
“Okelah kalau begitu.”
Sesampainya disana, ternyata mereka bertiga udah balik aja disana, nampaknya mereka tahu kalau kami ngikutin mereka, sehingga niat licik itu akhirnya mereka urungkan.
Ngomong-ngomong soal para siswi cewek itu, mereka mandi lama sekali sih, udah hampir sejam belum kelar-kelar juga. Hari udah mulai tambah gelap juga. Apa sih kerjaan mereka. Nyamuk-nyamuk juga mulai bertebaran sepanjang kami memandang, dengungannya biikin ngeri saja. Untungnya kami disuruh membawa lotion anti nyamuk sebelum pergi, tapikalau digunakan sekarang tentu saja mubazir, karna sebentar lagi, giliran kami yang mandi.
“Tolonggggggggggg………..”

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 30)


Strategi gw berhasil dan sukses bikin kami bekerja sementara di Gudangnya paman Irwan.
“Sekarang, kalian angkut beras-beras itu masuk kedalam truk.” Perintah paman Irwan.
Semuanya menatap gw dengan pandangan sinis.
“Kita disini ini buat kerja atu minta izin sama pamannya Irwan sih?” Gerutu Reo.
“Kita tuh harus punya siasat untuk mengambil hati pamannya irwan. Kalau kita bisa ngambil hatinya paman Irwan pastinya minta izinnya juga akan jadi lebih lancar dong.”
“Bener juga kata si Alex.” Ujar Vicko mengangguk setuju sedari mikir-mikir juga.
“Ya sudahlah, gw nggak mau ngerepotin kalian. Nggak apa-apa kok gw nggak ikut.”
“Elu ngomong apaan sih wan? Kita disini tuh karna mau ngebantu lu. Jadi jangan menyerah sebelum berperang gitu dong.” Ujar gw menyemangati Irwan.
“Tapi… Paman gw itu keras kepala dan teguh sama pendiriannya. Jadi walaupun kita ngelakuin hal ini, belum tentu dia mau ngasih izin ke gw.”
“Nah, kalau belum dicoba udah bilang nggak mungkin itu sama aja kayak pecundang.”
“Okelah,terima kasih banget untuk kalian semua.Apapun hasilnya,kita nggak boleh nyerah.”Ujar Irwan menyapu air mata terharunya dikedua pipinya yang sedikit dekil XD.
“Nah.. Gitu dong, itu baru namanya jiwa seorang petarung.”
Akhirnya, kami menghentikan pembicaraan kami dan mulai bekerja. Setelah 2 jam bergulat dengan karung-karung berat itu, pada akhirnya pekerjaan kami selesai juga tepat waktu. Walau dengan banjir peluh, walau dengan debu dan polusi, walau dengan keadaan capek banget, perjuangan kami selesai juga.
Kami pun menemui paman irwan untuk ngasih kabar ini.
“Paman, kita udah selesai dengan pekerjaan kita.” Ujar gw berapi-api ( Mungkin bisa jadi sumber api olimpiade Beijing nih.. Hihihi).
“Terus kenapa memangnya kalau sudah selesai? Kalian minta imbalan?”
“Bukan begitu paman, kita orang ikhlas kok dengan bantuan ini. Cuma….”
“Cuma apa? Pasti ada udang dibalik bakwan.”
“Begini paman….”
“Begini apanya?”
“Kita…… Mau……”
“Mau apa?”
Gw meneguk air liur gw ampe berkali-kali sampai akhirnya gw siap untuk ngomong.
“Paman sudah tahu, disini kalian bantu paman karna ada seseuatu kan? Ya sudah, katakan aja ada hal apa.”
Senyum merakah mengembang kayak kue bolu Nampak semua diwajah kami.Dan pada akhirnya, Irwan dapat izin juga kali ini. Perjuangan kami nggak sia-sia dan akhirnya berbuah juga ( Coba buahnya apel, melon, atau yang lain, kan lebih enak gitu).
HARI LKTD TIBA…
Semua anggota OSIS dan juga calon OSIS (nunjuk diri sendiri) berkumpul di lapangan upacara.Dan kami harus cuti dulu dari kegiatan belajar-mengajar selama 2 hari, karna LKTD dimulai dari hari jum’at – minggu.
Pertama disitu, akhirnya kelompok-kelompok dibagikan juga. Sedikit menyusahkan sih, kalau kelompok mesti dibagi pada hari- H seperti ini.Harusnya bisa lebih efisien daripada ini, tapi ya sudahlah, toh mereka yang jadi OSIS bukan gw, gw kan cuma calon aja.
Setelah dibagikan, gw mesti kepisah sama temen – temen terbaik gw, tapi pembagian seperti ini pasti ada gunanya pasti. Biar kita tuh kenal juga sama anggota OSIS yang lain.
“Temen – temen, gw tau kalian pasti beraat banget buat kepisah ma gw (narik ingus), tapi peraturan tetep peraturan, kita nggak bisa menolak ini, meski kita harus kepisah sementara waktu (sambil terpejam), kita harus kuat (membuka mata).”
Apa-apaan ini, mereka malah udah ngehilang dari pandangan gw, kemana mereka? Dasar mereka semua, tidak memperdulikan gw lagi. Mungkin mereka nggak kuat menatap gw kali yah, makanya langsung ngehindar, pasti kejadiannya seperti itu (Meyakinkan diri sendiri).
“Kalian semua bergabung dengan anggota kelompok kalian yang lain.Sekarang !!! “
“ Jangan teriak dong ci, kita nggak budeg kok. Iya nggak teman – teman?” seru Ferdy lagi.
“Iya.” Seru kami mendukung Ferdy.
“Sekali lagi kamu atau yang lain manggil saya ci, kalian bakal saya hukum. Denger nggak?”
“Denger nggak kata ci Sheren?” Ujar Jody yang juga senior OSIS.
“Katanya nggak boleh panggil ci? Nah, kakak Jody sendiri panggil ci sama kakak Sheren.” Ujar Ferdy lagi sambil nyengir.
“Suka – suka saya dong. Saya kan OSIS disini, ingat yah, nggak boleh manggil cici ataupun koko disini, nggak boleh ngomong gw ataupun elu disini, disini pakai saya atau kamu. Nggak boleh ngomong jorok selama disana, ingat, kita LKTD di pantai dekat hutan, jadi hargai penghuni yang udah ada disana terlebih dulu.”
“Penghuni siapa kak?” Tanya gw spontan.
“Penghuni itu adalah mereka. Mereka yang sudah ada bahkan sebelum kita lahir, mereka yang sudah ada sebelum dunia terbentuk. Mereka yang ……. “
“Sudah Jody, kamu jangan menakut-nakuti anak-anak baru ini.” Seloroh kak Sheren lagi.
“Baiklah, sekarang tugas pertama kalian sebelum kita pergi ke tempat tujuan kita, masing-masing kelompok diwajibkan dan diharuskan (sambil melotot) membuat iyel-yel kelompok, dan kelompok terbaik akan mendapatkan bahan makanan terbaik juga daripada yang lain, mengerti? Waktu kalian 15 menit untuk melakukan itu.”
Gw segera kembali ke kelompok gw, dan semuanya merupakan bauran anak kelas lain, anak kelas gw nggak ada satupun (masang muka sedih), yang gw kenal hanya Asan (Temen SMP gw) yang ternyata juga ikut LKTD ini.
“Baik temen-temen, sebelum kita mulai buat iyel-iyel kelompok, kita harus mengenal dulu satu sama lain.” Ujar gw membuka sesi percakapan.
“Kita semua sudah saling kenal kok.”
“Hah?” Mata gw terbelalak sampai-sampai mau keluar.
Kemana aja lu lex selama ini, masa hanya kenal dengan anak satu kelas aja sih? Harus dirubah nih tandu-tindak yang kayak begini.
“Oke, karna kita belum pada kenal, gw perkenalkan diri dulu.”
“Elu Alex kan?” Tanya seorang gadis cantik disitu dengan tersipu malu.
Bagaimana dia bisa tahu nama gw, apa gw begitu populernya sampai-sampai semua gadis disekolahan kenal ama gw.
“Tau darimana?” tanyaku malu-malu.
“Elu kan yang kemarin sembunyi dikelas 1pj2 kemarin kan? Waktu ada Pak is?”
Astaga, rupanya dia inget kejadian mendebarkan itu. Gw kira, dia tahu gw, karna gw …. Ah sudahlah, nggak penting juga.
Setelah itu, gw akhirnya tahu nama mereka walau kadang-kadang masih tertukar manggil mereka.Dan bicara soal kelompok ini, kenapa juga nama kelompok gw itu ‘Bunga bangkai’? Nggak  ada keren-kerennya juga. Kenapa nggak bunga sakura gitu ka Japanese banget, atau bunga tulip gitu, kan Netherland banget. Lah ini, bunga bangke, sama sekali tidak menunjukkan kharismaku sebagai idola popular satu sekolahan. Hihihi..
Sebenernya mau protes nih tentang nama ini, tapi mengetahui nama-nama kelompok lain, niat mulia ku ini kuurungkan juga akhirnya. Nama kelompok depan gw malahan ‘Peti Mati’ serem bener kan? Apa menyesuailan sama anggota kelompoknya yang nyeremin semua? Hush.. Ngatain orang itu nggak baik. Tapi sekali-kali dimaafkanlah.
Setelah berdiskusi panjang lebar, pada akhirnya kami memilih sebuah iyel-iyel unik nan menggelitik bin menggelikan. Irama iyel-iyelnya sih ngambil dari sebuah lagu yang popular, lagu itu tak lain dan tak bukan serta tak salah adalah (Genderang berbunyi kencang… Deng.. Deng… Deng…) Jablay… (Tetot).
Kenapa milih lagu jablay? Apakah karna para anggotanya yang unyu ini haus akan belaian, sepertinya demikian (ditimpuk anggota lain).
Beginiliah lirik amatiran dari sebuah karya yang professional (Tepuk tangan meriah membahana)
Bang … Eneng… Ikut kami berdendang yuk… (Yihaaaa……)
Waktu tamasya di padang pasir (Padang pasir = Lapangan upacara)
Darah kami mengalir berdesir-desir (Aseekkk banget kan?)
Lihat kelompok lain nyengir…
Dalam ati kami biarin…

Nggak kerasa udah disini
Panas, debu tak kami peduli
Hanya demi LKTD yang berarti
Kami relakan kulit jadi begini

Bangke… Bangke… bangke…
Biarin nama kami Bangke
Asalkan yang penting, hati kami ga bangke…
Bangke… Bangke… Bangke…
Biarin nama kami bangke
Asalkan yang penting, mereka (nunjuk kelompok lain) juga Bangke.
“Woooooo…. ”, Teriak Kelompok lain histeris. Kertas-kertas pun ikut menari-nari diudara mengarah pada kami, entah darimana datangnya kertas-kertas itu. Gw pun nggak begitu memperhatikan lagi. Hihihi…
Setelah semua kelompok maju menunjukkan iyel-iyelnya, kami pun akhirnya diberangkatkan juga menuju medan perang (eh… maksudnya tempat LKTD). Satu persatu kami naik keatas tronton, tapi kenapa sih kalau ada acara begini selalu make tronton, sekali-kali pakai Mersi atau minimal Ferarri kek, kalau gw nggak ikut, mungkin bolehlah pake tronton (Dilempar pake panci).
Para awewek labil pada teriak-teriak gajebo lagi, teriaknya yang merdu coba (Emang nyanyi). Ada yang teriak panas, ada yang gak tahan gerah, ada yang bilang mual. Kalau mau dirasain, semua juga ngalamin kali, tapi pandai-pandainya kita aja kali untuk ngendaliin diri. Kenapa sih ‘wanita’ itu mesti seekspresif itu? (Ditonjok semua wanita yang singgah di blog ini).
Mau tidak mau, suka ato nggak suka, seneng ato ga seneng, akhirnya tronton kami pun dijalankan. Setelah tronton berjalan, akhirnya ada juga angin segar yang menerpa wajah dan pipiku yang unyuu unyuu ini. Lumayan segarlah untuk keadaan seperti ini, udah desak-desakkan, bau keringat dimana-mana pula (Kok sekarang gw yang jadi ngelu XD).
“Pletak!!!”, Suara ban pecah terdengar sangat nyaring, semua yang ada dalam tronton otomatis terkejut.

Sabtu, 18 Juni 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 29)


Sebulan udah berlalu semenjak kecelakaan yang menimpa gw itu. Sekarang 2 kaki gw udah gw buang jauh-jauh (padahal simpen dirumah). Kaki gw balik normal lagi jadi 2 saja.
Sementara itu, akhirnya gw putuskan untuk mengakhiri hubungan gw dan Shely, ini bukan karna Aling, tapi lebih kepada sebuah masalah yang kami alami yang pada akhirnya menemui jalan buntu.
Hari ini rombongan OSIS mendatangi kelas gw.
“Selamat siang semuanya, kami dari pengurus OSIS ingin menyampaikan kabar gembira untuk teman-teman sekalian, karna pendaftraran OSIS sudah dibuka lagi mulai hari ini. Buat temen-temen disini yang ingin belajar berorganisasi dan bertanggung jawab terhadap suatu pekerjaan, maka disinilah tempatnya.Kami tunggu partisipasi kalian semua di OSIS ini. Dan formulir pendaftarannya bisa temen-temen dapatkan melalui ketua kelas kalian sendiri.Terima kasih atas perhatian semuanya, maaf bila ada salah kata. Kami kembalikan lagi pada Bu Erma selaku guru yang sedang bertugas mengajar saat ini. Permisi Bu.”
Rombongan OSIS sebanyak itu buat apa pake acara masuk semua kekelas sih, bikin sumpek saja. Yang ngomong malah hanya satu orang lagi. Memangnya ini parade model apa? Kan cukup satu atau 2 orang saja yang masuk, itu kan lebih efektif dan efisien. Tapi kayaknya temen-temen gw yang lain meikmatinya, karna otomatis pelajaran IPA jadi tertunda. Lagi bahas gunung merapi dan antek-anteknya sih, makanya kepala mereka jadi panas kayak gunung merapi yang ingin memuntahkan lahar panasnya (Taruh dalam kulkas saja).
Ibu Erma terlihat nggak senang dengan kehadiran rombongan OSIS itu, nampak jelas dari raut wajahnya yang sedari tadi hanya bermuram durja saja. Tak lama kemudian, ia pun mengeluarkan unek-unek buteknya tentang anak OSIS.
“Ibu sebetulnya kurang sreg dengan anak-anak OSIS, kerjaan mereka hanya sibuk ngurusin organisasi saja. Dengan begitu kan pelajaran mereka jadi terbengkalai. Kalau mereka semua pintar sih nggak masalah, nah ini, kebanyakan dari mereka anak-anak yang ‘kurang pandai’. Lebih mementingkan OSIS pula daripada pelajaran. Kalau ibu boleh member saran, lebih baik kalian semua nggak masuk ke OSIS lah, fokus saja pada pelajaran kalian. Tapi itu dikembalikan lagi pada kalian, kalau kalian bisa mengatur keduanya tetap imbang sih nggak masalah, tapi kalau dalam pelajaran saja kalian tersengal-sengal, lebih baik tidak dulu.”
Ceramah panjang lebar sepanjang tembok raksasa mesir pun diakhiri dengan suara bel sekolah yang berbunyi 2x tanda istirahat telah tiba.
Saat istirahat tiba, anak-anak lain sibuk membahas OSIS tadi. Tak terkecuali gw dan beberapa sohib gw.
Vicko menaik-naikkan alisnya.
“Gimana? Pada mau ikut nggak?”
“Mau dong.” Ujar Ferdy antusias.
“Gw agak males nih, pasti entar ada LKTD nya.” Sahut Reo santai.
Ferdy mengkerutkan dahinya.
“LKTD? Apaan emangnya tuh?”
“Latihan Kepemimpinan Teknik Dasar oon. Dasar cumi lo.”
“Yihaaa.. Mulai kasar ni si Vicko.Hahahaa..”Ujar Reo terkikik seperti orang kesetrum.
“Teganya vicko pada diri Ferdy yang unyu ini.”
Semuanya langsung jitakin Ferdy ketika ngomong kayak gitu. Tentu aja jitaknya becanda, khas anak ababil SMK gitulah.
Irwan yang sedari tadi diam saja mulai unjuk bicara.
“Kalau gw sendiri nggak bisa kayaknya, soalnya gw sibuk banget. Gw mesti kerja digudang paman gw. Sorry yah, mungkin gw nggak bisa untuk kali ini.”
“Yah.. Nggak lengkap,jadi nggak seru dong. Lagipula,katanya LKTD ini Cuma 3 hari doing kok. Masa sih nggak bisa minta cuti ke paman elu?”
“Paman gw itu galak dan disiplin banget. Kalau gw langsung minta kayak gitu, pastinya nggak akan dikasih.”
“Tenang aja, serahin ke kita orang.” Ujar gw dengan lirikan mirip pedangdut sejati (apa sih). Semuanya ngelirik gw dengan ekspresi muka bertanya-tanya. Hal gila apalagi yang bakal gw lakuin kali ini? Tapi tenang aja temen-temen. Kita bakalan bantu Irwan buat minta izin ke pamannya. Setuju?”
“Wuuuuuu….” Semuanya menyoraki gw
***
“Gudang paman gw disebelah sana. Lu pada yakin mau nintain izin buat gw?” Tanya Irwan dengan penuh keraguan.
Kami semua menatap ke arah Irwan dengan pandangan eksentrik nan eksotis. Gw meletakkan tangan gw ditengah-tengah formasi lingkaran kami, yang lain pun ikut melakukan yang sama. Setelah itu, secara serempak semuanya mengangkat tangan keatas.
“Yakiiinnn…!!!”
Masyarakat sekitar yang ngelihat kami jadi ngelirik kearah kami semua, melihat tingkah gila kami yang berakibat polusi suara disekitar tempat tinggal mereka (bisa ngomong kayak gini akibat efek pelajaran Ibu Erma kemarin XD).
Dengan berjalan kaki(motor kami sudah diparkir dibawah batang poon belimbing tadi biar teduh) kami secara bersama-sama melangkahkan kaki dan bergaya layaknya go jun pyo dan kawan-kawan (Nyalain lagu Paradise).
“Itu dia paman gw.” Ujar Irwan tiba-tiba (membuyarkan khayalan kami saja).
“Wah.. Paman lu kecil yah?” celetuk Ferdy.
“Iya.. Tapi nyalinya gede banget.Sangat kontras dengan tubuhnya.”Sambung Vicko.
Disaat-saat genting begini, masih bisa-bisanya si ferdy dan Vicko sepaham gitu. Emang duet konyol gokil mereka ini. Sepaham,sehati dan sepikiran (maksa).
“Sudah-sudah, kalian jangan jadi ngejekin paman gw dong, biar jelek, item, dekil gitu dia tetap paman gw.”
Jiah.. Si Irwan secara polos dan nggak sadar malah nambah jelek-jelekin pamannya sendiri. Dasar miring ni keponakannya.
“Irwan…” Suara seseorang bergema memanggil irwan.
“Nah kan, paman gw yang sekecil kutil kayak gitu, suaranya bisa segede gamban. Ayo kita kesana.” Bisik Irwan.
Kami semua pun berjalan menghampiri paman Irwan.
“Sedang apa kamu disitu? Bukannya langsung kerja aja,ini malah kongke (kongke=ngobrol-ngobrol, ini juga salah satu kosakata Bangka) nggak jelas gitu dengan cecunguk-cecunguk itu.”
Parah, kita orang dibilang cecunguk-cecunguk, T-E-R-L-A-L-U.
“Nggak kok paman.Kedatangan saya bersama temen-temen ini karna pengen ngomongin sesuatu.”
“Ngomongin apa?” ujarnya dengan tampak sangar.
“Ayo Lex.. lu yang ngomong.”
“Hmm.. Gini paman, kita disini tuh untuk bantu paman. Habisnya Irwan bilang, lagi kekurangan orang buat angkut-angkut kayak gini. Jadinya, kami berniat bantu paman. Kita nggak perlu dibayar kok paman. Kita tuh tulus mau bantu paman.”
Pandangan bola mata mereka menggeliat tak karuan kepada gw seolah kaget karna omongan gw barusan, karna sebelumnya gw juga nggak ada kompromi dengan mereka mengenai hal ini.

Jumat, 17 Juni 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 28)


“Kenapa masih bengong dek? Ayo naek.”
Gue mau netesin airmata tapi gue tahan-tahan deh, malu depan koko gue yang satu ini. Untuk pertama kalinya dia begitu perhatian ma gue. Masih dibantu nyokap gue, akhirnya gue bisa naek ke motor juga. Antara percaya nggak percaya, akhirnya motor kami pun mulai berjalan. Gue baru ngerasain rasanya punya seorang koko saat ini. Selama ini, gue cuma bisa berharap aja kalau gue bisa seperti temen-temen gue yang akrab banget ma kokonya. Tapi hari ini,  hal itu terjadi,dan mudah-mudahan hal ini akan terus berlangsung.
30 menit perjalanan dari rumah ke sekolah terasa sangat singkat sekali kali ini. Perasaan suka cita gue terus menaungi hati dan perasaan gue (halah). Sesampainya disekolah, koko gue turun terlebih dahulu dari motor, kemudian membantu gue turun.
“Pelan-pelan turunnya.”
Gue pun perlahan bisa turun dari motor dan tak lama kemudian, koko gue ngebawain tongkat gue yang sebelah kiri, dan perlahan memapah gue.
“Kelas lu kan ada di lantai 2 dek. Koko bantuin naik sampai kelas ya.”
Gue hanya ngangguk setuju.
Ketika sampai ditangga, rasanya memang agak susah untuk bisa naik keatas, baru satu anak tangga saja gue udah ngerasa kesakitan di kaki gue. Terasa ada jarum-jarum kecil menusuk-nusuk kaki gue.Gue pun meringis kesakitan.
“Kenapa dek? Nggak kuat yah?”
(Nggak nggak nggak kuat.. Nggak nggak nggak kuat.. Aku nggak kuat.. Sama playboy).
Becanda deh, nggak gitu kali gue jawabnya. Gue hanya ngangguk-ngangguk setuju mengiyakan tawaran  koko gue.
“Ya sudah. Koko gendong aja.”
Koko gue lantas ngambil tongkat gue dan ngeletakinnya dipinggiran tembok. Dia mulai menunduk, dan akhirnya gue pun digendong di punggungnya. Gue tau mungkin ini susah dan merepotkannya. Tapi gue bener-bener nggak bisa naik dengan cara yang tadi. Setelah sampai lantai 2, koko gue balik lagi ngambil tongkat gue itu. Dan ia pun masih nemenin gue sampe ke kelas. Temen-temen gue yang lain pun mulai ngelirik kearah gue dan koko gue. Mungkin mereka kira, kalau selama ini gue nggak punya koko yang satu sekolahan juga sama gue.Karna emang, gue dan koko gue nggak pernah kelihatan bareng pas di sekolah.
“Kalau ada apa-apa, telfon koko aja.”
Setelah mengatakan hal simpel namun sangat bermakna dalam bagi gue itu, koko gue pun meninggalkan kelas gue.
“Wah… Akhirnya lu masuk sekolah juga lex. Udah seminggu lo absen, akhirnya bisa liat lu juga.”Ujar Kembang kempis si Papis.
“Kenapa? Bukannya lu pada datang jenguk gue yah waktu di rumah sakit? Jadi udah liat gue dong pastinya.”
“Lah.. Elu diem gitu nggak bangun bangun dari kasur. Sama aja boong kalau nggak ngobrol ma elu.”
“Iya. Gue tau, nggak ada gue nggak rame yah?”
Si kembang kempis papis nyengir kuda.
“Najong bajaj lu.”
Tiba-tiba, salah seorang siswi cewek nyamperin gue. Dan elu tau siapa itu? Dia adalah Aling,A-L-I-N-G.
“Sorry yah Lex. Kemaren gue nggak bisa datang jenguk lu. Gue sih pengen, tapi nyokap gue juga lagi sakit dirumah, jadi gue masti standbye jagain nyokap gue.”
“Nggak apa-apa kok (tersenyum). Gimana keadaan nyokap lu? Udah baikan belum ling?”
“Nyokap gue udah sembuh kok kemarin. Thanks yah udah peduli. Lu sendiri gimana?”
“Sama-sama. Gue baik-baik aja, palingan kaki gue aja yang sakit dan mesti make tongkat ini.” Ujar gue seraya memperlihatkan 2 kaki baru gue itu.
“Elu ada-ada aja. Cepet sembuh yah. Gue masuk kelas dulu, entar gue dateng lagi deh.” Ujarnya tersenyum dengan sangat manis.
“Iya. Thanks yah Ling udah nanyain.”
***
Saat istirahat pertama.
Wah, perut gue udah keroncongan nih. Nggak biasanya sih gue laper jam segini, masih jam 9.30 pagi. Tapi entah ada angin topan darimana entah ada badai tropis lautan mana, gue ngerasa lebih cepet lapar pagi ini. Pengen makan orang rasanya.
“Ini koko beliin lu makanan dek. Dimakan yah.”
Entah datang darimana, tiba-tiba aja koko gue itu udah muncul aja didepan mata gue. Dia naruh makanan dengan bungkus kotak dimeja gue.
“Lu harus makan dulu, baru boleh minum obat dari dokter. Cepetan makan. Dan ini minumnya.” Ujar koko gue seraya mengeluarkan air minum mineral dari dalam tasnya.
Setelah mengatakan itu, ia lantas berniat pergi.
“Ko..” Gue pun manggil koko gue itu setengah berteriak.
Koko gue pun lantas melihat kebelakang lagi kearah gue seolah siap membantu gue.
“Ada apa dek?”
“Thank you yah.”
Koko gue lantas tersenyum saja mendengar ucapan terima kasih gue dan kemudian lantas pergi meninggalkan kelas. Entah kenapa,senyuman koko gue itu terasa tulus banget. Baru kali ini dia tersenyum tulus kayak gitu.
Seminggu nggak masuk pasti banyak banget gw ketinggalan pelajaran, apalagi catatan-catatannya, wah bisa kewalahan gw  nyatetnya. Tapi apadaya gw lah, harus tetep nyatet supaya nggak ketinggalan pelajaran. Baru aja mau nyatet, tapi tiba-tiba pengen ke toilet. Tadi minum kebanyakan nih kayaknya, makanya pengen buang air terus. Mana kondisi kaki lagi kayak gini lagi, sungguh merepotkan saja. Tubuh gw emang nggak bisa diajak kompromi *orang kaliii
“Mau kemana lu Lex?” Tanya Papis ke gw.
“Toilet. Pengen buang air kecil nih gw.”
“Jiah..  Gaya lu buang air kecil, bilang aja pengen kencing.”
Jiah.. Sadis bener si Papis, bahasanya udah gw perhalus, eh malah dikasarin lagi. Aya-aya wae.
“Bisa nggak sendiri?”
“Mungkin bisa.”
“Apa mau dibantuin?”
“Hmmm…” gw lagi mikir-mikir.
“Sorry yah, gw ada kerjaan bentar, jadi nggak bisa bantu lu.”
Nih orang ngeselin banget, dia yang nawarin bantuan, eh dia juga yang mengelak. Akhirnya, gw berangkat sendirilah ke toilet. Nggak enak minta bantuan ama yang laen. Lagipula, toilet kan nggak jauh dari kelas gw. Gw pun beranjak dari kursi gw, secara perlahan berjalan dengan diiringi 2 tongkat gw. Sesekali anak lain pada ngelihatin gw (Cuma ngelihatin? Bantuin gw kek jalan. Kan dapet pahala.Hihihi) sambil berlalu saja. Perjuangan gw nampaknya masih panjang. Jarak toilet dari kelas gw padahal hanya 10 meteran. Tapi rasanya udah mau 1km,sekali pijakan saja serasa ditusuk-tusuk jarum seluruh organ kaki gw. Akhirnya, pas gw nyampe depan kelas 1 AK 2, seseorang merangkul gw dari belakang. Setelah gw menengok ke arahnya, gw lihat sosok itu lagi. Sosok yang selalu hampir ada disetiap gw butuhin dia.
“Aling.” Ujar gw spontan.
“Iya. Kenapa?”
“Nggak, agak kaget gw.”
“Lu mau kemana?”
“Gw mau ke toilet.”
“Gw anterin lu yah.”
“Hah? Tapi kan toilet cowok.”
“Yeh.. Siapa yang mau nganterin sampe dalem.S ampe depannya aja. Lu kelihatan kesakitan jalannya. Boleh gw bantu kan?”
“Hah? Beneran? Boleh sih, asal nggak ngerepotin lu.”
Akhirnya Aling pun memapah gw hingga sampai ke depan toilet. Di sepanjang koridor menuju toilet, siswa-siswi lain yang berlalu lalang daerah tersebut terlihat memandangi kami berdua, Tahu sendirilah pikiran anak ababil SMK yang suka akan gossip. Baru nyentuh dikit aja udah dikira mesum, apalagi sampe rangkulan gini, pasti dikira dan digosipin pacaran lah.
“Gw jadi nggak enak ma elu ling.”
“Udahlah, abaikan saja. Yang tahu pasti kan hanya kita berdua dan juga Tuhan. Jadi walaupun orang lain bilang apapun, abaiin ajalah.”
“Thank you yah.”
***
Sekembalinya gw dari dalam toilet, gw kira si Aling udah balik. Taunya dia masih nungguin gw depan toilet.
“Kok lu masih disini ling?”
“Nggak boleh yah?” ujarnya dengan amat sangat manis.
“Boleh sih.” Ujar gw sedikit ga enakan.
“Kalau ngebantu temen tuh nggak boleh setengah-setengah, harus sampai tuntas. Itu yang bonyok gw tanemin ke gw dari mulai gw kecil.”
Gw nggak tau mesti berkata apa lagi, seolah lidah gw keluh karna pesona Aling. Tak hanya cantik diluar, tapi dia juga cantik didalam (fakta inilah yang sampai saat ini gw ketahui dan gw nilai sendiri). Maafkan aku Shely-ku, aku galau sekarang *ce ile bahasanya