Selamat Bergabung

Kadang-kadang usilnya nggak ketulungan..tapi kadang-kadang,jahilnya kebangetan.Penuh canda tawa,suka duka dan kebersamaan diantara mereka selama 3 tahun ini.Dibumbui kisah persahabatan dan juga percikan asmara.Bagaimana jadinya?

Banner this blog

Sabtu, 18 Juni 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 29)


Sebulan udah berlalu semenjak kecelakaan yang menimpa gw itu. Sekarang 2 kaki gw udah gw buang jauh-jauh (padahal simpen dirumah). Kaki gw balik normal lagi jadi 2 saja.
Sementara itu, akhirnya gw putuskan untuk mengakhiri hubungan gw dan Shely, ini bukan karna Aling, tapi lebih kepada sebuah masalah yang kami alami yang pada akhirnya menemui jalan buntu.
Hari ini rombongan OSIS mendatangi kelas gw.
“Selamat siang semuanya, kami dari pengurus OSIS ingin menyampaikan kabar gembira untuk teman-teman sekalian, karna pendaftraran OSIS sudah dibuka lagi mulai hari ini. Buat temen-temen disini yang ingin belajar berorganisasi dan bertanggung jawab terhadap suatu pekerjaan, maka disinilah tempatnya.Kami tunggu partisipasi kalian semua di OSIS ini. Dan formulir pendaftarannya bisa temen-temen dapatkan melalui ketua kelas kalian sendiri.Terima kasih atas perhatian semuanya, maaf bila ada salah kata. Kami kembalikan lagi pada Bu Erma selaku guru yang sedang bertugas mengajar saat ini. Permisi Bu.”
Rombongan OSIS sebanyak itu buat apa pake acara masuk semua kekelas sih, bikin sumpek saja. Yang ngomong malah hanya satu orang lagi. Memangnya ini parade model apa? Kan cukup satu atau 2 orang saja yang masuk, itu kan lebih efektif dan efisien. Tapi kayaknya temen-temen gw yang lain meikmatinya, karna otomatis pelajaran IPA jadi tertunda. Lagi bahas gunung merapi dan antek-anteknya sih, makanya kepala mereka jadi panas kayak gunung merapi yang ingin memuntahkan lahar panasnya (Taruh dalam kulkas saja).
Ibu Erma terlihat nggak senang dengan kehadiran rombongan OSIS itu, nampak jelas dari raut wajahnya yang sedari tadi hanya bermuram durja saja. Tak lama kemudian, ia pun mengeluarkan unek-unek buteknya tentang anak OSIS.
“Ibu sebetulnya kurang sreg dengan anak-anak OSIS, kerjaan mereka hanya sibuk ngurusin organisasi saja. Dengan begitu kan pelajaran mereka jadi terbengkalai. Kalau mereka semua pintar sih nggak masalah, nah ini, kebanyakan dari mereka anak-anak yang ‘kurang pandai’. Lebih mementingkan OSIS pula daripada pelajaran. Kalau ibu boleh member saran, lebih baik kalian semua nggak masuk ke OSIS lah, fokus saja pada pelajaran kalian. Tapi itu dikembalikan lagi pada kalian, kalau kalian bisa mengatur keduanya tetap imbang sih nggak masalah, tapi kalau dalam pelajaran saja kalian tersengal-sengal, lebih baik tidak dulu.”
Ceramah panjang lebar sepanjang tembok raksasa mesir pun diakhiri dengan suara bel sekolah yang berbunyi 2x tanda istirahat telah tiba.
Saat istirahat tiba, anak-anak lain sibuk membahas OSIS tadi. Tak terkecuali gw dan beberapa sohib gw.
Vicko menaik-naikkan alisnya.
“Gimana? Pada mau ikut nggak?”
“Mau dong.” Ujar Ferdy antusias.
“Gw agak males nih, pasti entar ada LKTD nya.” Sahut Reo santai.
Ferdy mengkerutkan dahinya.
“LKTD? Apaan emangnya tuh?”
“Latihan Kepemimpinan Teknik Dasar oon. Dasar cumi lo.”
“Yihaaa.. Mulai kasar ni si Vicko.Hahahaa..”Ujar Reo terkikik seperti orang kesetrum.
“Teganya vicko pada diri Ferdy yang unyu ini.”
Semuanya langsung jitakin Ferdy ketika ngomong kayak gitu. Tentu aja jitaknya becanda, khas anak ababil SMK gitulah.
Irwan yang sedari tadi diam saja mulai unjuk bicara.
“Kalau gw sendiri nggak bisa kayaknya, soalnya gw sibuk banget. Gw mesti kerja digudang paman gw. Sorry yah, mungkin gw nggak bisa untuk kali ini.”
“Yah.. Nggak lengkap,jadi nggak seru dong. Lagipula,katanya LKTD ini Cuma 3 hari doing kok. Masa sih nggak bisa minta cuti ke paman elu?”
“Paman gw itu galak dan disiplin banget. Kalau gw langsung minta kayak gitu, pastinya nggak akan dikasih.”
“Tenang aja, serahin ke kita orang.” Ujar gw dengan lirikan mirip pedangdut sejati (apa sih). Semuanya ngelirik gw dengan ekspresi muka bertanya-tanya. Hal gila apalagi yang bakal gw lakuin kali ini? Tapi tenang aja temen-temen. Kita bakalan bantu Irwan buat minta izin ke pamannya. Setuju?”
“Wuuuuuu….” Semuanya menyoraki gw
***
“Gudang paman gw disebelah sana. Lu pada yakin mau nintain izin buat gw?” Tanya Irwan dengan penuh keraguan.
Kami semua menatap ke arah Irwan dengan pandangan eksentrik nan eksotis. Gw meletakkan tangan gw ditengah-tengah formasi lingkaran kami, yang lain pun ikut melakukan yang sama. Setelah itu, secara serempak semuanya mengangkat tangan keatas.
“Yakiiinnn…!!!”
Masyarakat sekitar yang ngelihat kami jadi ngelirik kearah kami semua, melihat tingkah gila kami yang berakibat polusi suara disekitar tempat tinggal mereka (bisa ngomong kayak gini akibat efek pelajaran Ibu Erma kemarin XD).
Dengan berjalan kaki(motor kami sudah diparkir dibawah batang poon belimbing tadi biar teduh) kami secara bersama-sama melangkahkan kaki dan bergaya layaknya go jun pyo dan kawan-kawan (Nyalain lagu Paradise).
“Itu dia paman gw.” Ujar Irwan tiba-tiba (membuyarkan khayalan kami saja).
“Wah.. Paman lu kecil yah?” celetuk Ferdy.
“Iya.. Tapi nyalinya gede banget.Sangat kontras dengan tubuhnya.”Sambung Vicko.
Disaat-saat genting begini, masih bisa-bisanya si ferdy dan Vicko sepaham gitu. Emang duet konyol gokil mereka ini. Sepaham,sehati dan sepikiran (maksa).
“Sudah-sudah, kalian jangan jadi ngejekin paman gw dong, biar jelek, item, dekil gitu dia tetap paman gw.”
Jiah.. Si Irwan secara polos dan nggak sadar malah nambah jelek-jelekin pamannya sendiri. Dasar miring ni keponakannya.
“Irwan…” Suara seseorang bergema memanggil irwan.
“Nah kan, paman gw yang sekecil kutil kayak gitu, suaranya bisa segede gamban. Ayo kita kesana.” Bisik Irwan.
Kami semua pun berjalan menghampiri paman Irwan.
“Sedang apa kamu disitu? Bukannya langsung kerja aja,ini malah kongke (kongke=ngobrol-ngobrol, ini juga salah satu kosakata Bangka) nggak jelas gitu dengan cecunguk-cecunguk itu.”
Parah, kita orang dibilang cecunguk-cecunguk, T-E-R-L-A-L-U.
“Nggak kok paman.Kedatangan saya bersama temen-temen ini karna pengen ngomongin sesuatu.”
“Ngomongin apa?” ujarnya dengan tampak sangar.
“Ayo Lex.. lu yang ngomong.”
“Hmm.. Gini paman, kita disini tuh untuk bantu paman. Habisnya Irwan bilang, lagi kekurangan orang buat angkut-angkut kayak gini. Jadinya, kami berniat bantu paman. Kita nggak perlu dibayar kok paman. Kita tuh tulus mau bantu paman.”
Pandangan bola mata mereka menggeliat tak karuan kepada gw seolah kaget karna omongan gw barusan, karna sebelumnya gw juga nggak ada kompromi dengan mereka mengenai hal ini.

Jumat, 17 Juni 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 28)


“Kenapa masih bengong dek? Ayo naek.”
Gue mau netesin airmata tapi gue tahan-tahan deh, malu depan koko gue yang satu ini. Untuk pertama kalinya dia begitu perhatian ma gue. Masih dibantu nyokap gue, akhirnya gue bisa naek ke motor juga. Antara percaya nggak percaya, akhirnya motor kami pun mulai berjalan. Gue baru ngerasain rasanya punya seorang koko saat ini. Selama ini, gue cuma bisa berharap aja kalau gue bisa seperti temen-temen gue yang akrab banget ma kokonya. Tapi hari ini,  hal itu terjadi,dan mudah-mudahan hal ini akan terus berlangsung.
30 menit perjalanan dari rumah ke sekolah terasa sangat singkat sekali kali ini. Perasaan suka cita gue terus menaungi hati dan perasaan gue (halah). Sesampainya disekolah, koko gue turun terlebih dahulu dari motor, kemudian membantu gue turun.
“Pelan-pelan turunnya.”
Gue pun perlahan bisa turun dari motor dan tak lama kemudian, koko gue ngebawain tongkat gue yang sebelah kiri, dan perlahan memapah gue.
“Kelas lu kan ada di lantai 2 dek. Koko bantuin naik sampai kelas ya.”
Gue hanya ngangguk setuju.
Ketika sampai ditangga, rasanya memang agak susah untuk bisa naik keatas, baru satu anak tangga saja gue udah ngerasa kesakitan di kaki gue. Terasa ada jarum-jarum kecil menusuk-nusuk kaki gue.Gue pun meringis kesakitan.
“Kenapa dek? Nggak kuat yah?”
(Nggak nggak nggak kuat.. Nggak nggak nggak kuat.. Aku nggak kuat.. Sama playboy).
Becanda deh, nggak gitu kali gue jawabnya. Gue hanya ngangguk-ngangguk setuju mengiyakan tawaran  koko gue.
“Ya sudah. Koko gendong aja.”
Koko gue lantas ngambil tongkat gue dan ngeletakinnya dipinggiran tembok. Dia mulai menunduk, dan akhirnya gue pun digendong di punggungnya. Gue tau mungkin ini susah dan merepotkannya. Tapi gue bener-bener nggak bisa naik dengan cara yang tadi. Setelah sampai lantai 2, koko gue balik lagi ngambil tongkat gue itu. Dan ia pun masih nemenin gue sampe ke kelas. Temen-temen gue yang lain pun mulai ngelirik kearah gue dan koko gue. Mungkin mereka kira, kalau selama ini gue nggak punya koko yang satu sekolahan juga sama gue.Karna emang, gue dan koko gue nggak pernah kelihatan bareng pas di sekolah.
“Kalau ada apa-apa, telfon koko aja.”
Setelah mengatakan hal simpel namun sangat bermakna dalam bagi gue itu, koko gue pun meninggalkan kelas gue.
“Wah… Akhirnya lu masuk sekolah juga lex. Udah seminggu lo absen, akhirnya bisa liat lu juga.”Ujar Kembang kempis si Papis.
“Kenapa? Bukannya lu pada datang jenguk gue yah waktu di rumah sakit? Jadi udah liat gue dong pastinya.”
“Lah.. Elu diem gitu nggak bangun bangun dari kasur. Sama aja boong kalau nggak ngobrol ma elu.”
“Iya. Gue tau, nggak ada gue nggak rame yah?”
Si kembang kempis papis nyengir kuda.
“Najong bajaj lu.”
Tiba-tiba, salah seorang siswi cewek nyamperin gue. Dan elu tau siapa itu? Dia adalah Aling,A-L-I-N-G.
“Sorry yah Lex. Kemaren gue nggak bisa datang jenguk lu. Gue sih pengen, tapi nyokap gue juga lagi sakit dirumah, jadi gue masti standbye jagain nyokap gue.”
“Nggak apa-apa kok (tersenyum). Gimana keadaan nyokap lu? Udah baikan belum ling?”
“Nyokap gue udah sembuh kok kemarin. Thanks yah udah peduli. Lu sendiri gimana?”
“Sama-sama. Gue baik-baik aja, palingan kaki gue aja yang sakit dan mesti make tongkat ini.” Ujar gue seraya memperlihatkan 2 kaki baru gue itu.
“Elu ada-ada aja. Cepet sembuh yah. Gue masuk kelas dulu, entar gue dateng lagi deh.” Ujarnya tersenyum dengan sangat manis.
“Iya. Thanks yah Ling udah nanyain.”
***
Saat istirahat pertama.
Wah, perut gue udah keroncongan nih. Nggak biasanya sih gue laper jam segini, masih jam 9.30 pagi. Tapi entah ada angin topan darimana entah ada badai tropis lautan mana, gue ngerasa lebih cepet lapar pagi ini. Pengen makan orang rasanya.
“Ini koko beliin lu makanan dek. Dimakan yah.”
Entah datang darimana, tiba-tiba aja koko gue itu udah muncul aja didepan mata gue. Dia naruh makanan dengan bungkus kotak dimeja gue.
“Lu harus makan dulu, baru boleh minum obat dari dokter. Cepetan makan. Dan ini minumnya.” Ujar koko gue seraya mengeluarkan air minum mineral dari dalam tasnya.
Setelah mengatakan itu, ia lantas berniat pergi.
“Ko..” Gue pun manggil koko gue itu setengah berteriak.
Koko gue pun lantas melihat kebelakang lagi kearah gue seolah siap membantu gue.
“Ada apa dek?”
“Thank you yah.”
Koko gue lantas tersenyum saja mendengar ucapan terima kasih gue dan kemudian lantas pergi meninggalkan kelas. Entah kenapa,senyuman koko gue itu terasa tulus banget. Baru kali ini dia tersenyum tulus kayak gitu.
Seminggu nggak masuk pasti banyak banget gw ketinggalan pelajaran, apalagi catatan-catatannya, wah bisa kewalahan gw  nyatetnya. Tapi apadaya gw lah, harus tetep nyatet supaya nggak ketinggalan pelajaran. Baru aja mau nyatet, tapi tiba-tiba pengen ke toilet. Tadi minum kebanyakan nih kayaknya, makanya pengen buang air terus. Mana kondisi kaki lagi kayak gini lagi, sungguh merepotkan saja. Tubuh gw emang nggak bisa diajak kompromi *orang kaliii
“Mau kemana lu Lex?” Tanya Papis ke gw.
“Toilet. Pengen buang air kecil nih gw.”
“Jiah..  Gaya lu buang air kecil, bilang aja pengen kencing.”
Jiah.. Sadis bener si Papis, bahasanya udah gw perhalus, eh malah dikasarin lagi. Aya-aya wae.
“Bisa nggak sendiri?”
“Mungkin bisa.”
“Apa mau dibantuin?”
“Hmmm…” gw lagi mikir-mikir.
“Sorry yah, gw ada kerjaan bentar, jadi nggak bisa bantu lu.”
Nih orang ngeselin banget, dia yang nawarin bantuan, eh dia juga yang mengelak. Akhirnya, gw berangkat sendirilah ke toilet. Nggak enak minta bantuan ama yang laen. Lagipula, toilet kan nggak jauh dari kelas gw. Gw pun beranjak dari kursi gw, secara perlahan berjalan dengan diiringi 2 tongkat gw. Sesekali anak lain pada ngelihatin gw (Cuma ngelihatin? Bantuin gw kek jalan. Kan dapet pahala.Hihihi) sambil berlalu saja. Perjuangan gw nampaknya masih panjang. Jarak toilet dari kelas gw padahal hanya 10 meteran. Tapi rasanya udah mau 1km,sekali pijakan saja serasa ditusuk-tusuk jarum seluruh organ kaki gw. Akhirnya, pas gw nyampe depan kelas 1 AK 2, seseorang merangkul gw dari belakang. Setelah gw menengok ke arahnya, gw lihat sosok itu lagi. Sosok yang selalu hampir ada disetiap gw butuhin dia.
“Aling.” Ujar gw spontan.
“Iya. Kenapa?”
“Nggak, agak kaget gw.”
“Lu mau kemana?”
“Gw mau ke toilet.”
“Gw anterin lu yah.”
“Hah? Tapi kan toilet cowok.”
“Yeh.. Siapa yang mau nganterin sampe dalem.S ampe depannya aja. Lu kelihatan kesakitan jalannya. Boleh gw bantu kan?”
“Hah? Beneran? Boleh sih, asal nggak ngerepotin lu.”
Akhirnya Aling pun memapah gw hingga sampai ke depan toilet. Di sepanjang koridor menuju toilet, siswa-siswi lain yang berlalu lalang daerah tersebut terlihat memandangi kami berdua, Tahu sendirilah pikiran anak ababil SMK yang suka akan gossip. Baru nyentuh dikit aja udah dikira mesum, apalagi sampe rangkulan gini, pasti dikira dan digosipin pacaran lah.
“Gw jadi nggak enak ma elu ling.”
“Udahlah, abaikan saja. Yang tahu pasti kan hanya kita berdua dan juga Tuhan. Jadi walaupun orang lain bilang apapun, abaiin ajalah.”
“Thank you yah.”
***
Sekembalinya gw dari dalam toilet, gw kira si Aling udah balik. Taunya dia masih nungguin gw depan toilet.
“Kok lu masih disini ling?”
“Nggak boleh yah?” ujarnya dengan amat sangat manis.
“Boleh sih.” Ujar gw sedikit ga enakan.
“Kalau ngebantu temen tuh nggak boleh setengah-setengah, harus sampai tuntas. Itu yang bonyok gw tanemin ke gw dari mulai gw kecil.”
Gw nggak tau mesti berkata apa lagi, seolah lidah gw keluh karna pesona Aling. Tak hanya cantik diluar, tapi dia juga cantik didalam (fakta inilah yang sampai saat ini gw ketahui dan gw nilai sendiri). Maafkan aku Shely-ku, aku galau sekarang *ce ile bahasanya




Rabu, 25 Mei 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 27)



Jiah… Gue disuruh masuk barisan khusus. Gue bakalan dihukum lagi nih gara-gara keteledoran gue. Padahal, gue belum pernah masuk barisan itu, insiden ini bakal ngejatohin imej gue sebagai siswa baik nih.
“Ada diatas kayaknya Pak. Saya ambil sebentar yah Pak.” Ujar gue meminta.
“Nggak ada waktu. Upacara udah mau dimulai. Cepat masuk kebarisan.”
Hiks.. Tega bener nih. Mau taruh dimana nih mukaku ini (Di cover majalah aja lah). Dengan setengah hati, akhirnya gue berjalan menuju barisan khusu itu. Dan disitu juga ada beberapa anak badung lain yang udah dibariskan dengan rapi disitu. Gawat nih, Koko dan Cece gue ngelihat gue lagi, bakal diaduin neh ke Emak. Apalagi Cece gue ember banget hidungnya, eh mulutnya. Setelah setengah jam, akhirnya kelar juga upacara bendera ini. Tapi tidak untukku dan yang lain yang ada dibarisan ini. Pasti akan ada hukuman yang akan menanti. (Aku belum mau mati, tolong jangan tembak atau gantung diriku yang unyu ini #Lebay).
Saat yang dinanti tiba juga, Pak Yan datang menghampiri barisan kami ini dengan wajah sumringah bertabur ceria, Ya nggaklah, pasti dengan wajah tegasnya. Apalagi nih yang bakal gue dapet, belum kelar juga hukuman gue ma temen-temen gue yang lain yang harus datang waktu Minggu tiba untuk ngerbersihin lingkungan sekitar Bakti ini , eh datang lagi hukuman lainnya. Hufh… Nampaknya Dewi angin-angin mulai menjauh dari gue.
“Kalian sudah tahu kan kalau hari senin, kalian harus memakai atribut lengkap?”
Kami diam tak bergeming, entar kalau gue nyahut malah kepanjangan lagi, yang ada gue malah bakal digantung entar. Hihihi..
“Kenapa kalian diam saja?”
“Tahu pak.” Ujar yang lain, sementara itu gue hanya lipsinc mangap-mangap ajang ngikutin gerak bibir yang lain. Niatnya sih mau sesukses SintaJojo. Hihihi
“Kalau kalian tahu kenapa masih nggak mematuhi itu semua? Bapak akan Tanya satu-satu alasan kalian.”
“Mulai dari Chika kemudian bergeser kekanan.”
“Saya lupa Pak.” Ujar Chika
“Saya lupa juga pak.” Ujar salah seorang siswa cowok senior ikut-ikutan.
Dan yang selanjut dan selanjut lanjutnya juga alasan demikian. Mereka nggak kreatip banget kan? Ckckck. Zaman sekarang masih trend yah ikut-ikutan seperti mereka itu? Hihihi. Namun, tiba pada salah satu siswa kelas 2 lainnya.
“Dasi saya dimakan kucing saya pak?”
“Hah, kok bisa?” gue dan yang laen berujar hampir kompakan.
“Yah bisa dong. Kucing gue itu omnivora,  jadi semua barang yang dia kira makanan bakal diembat ama dia. Hebat kan kucing gue?”
Gue hanya bisa nyengir kuda aja ngedenger ucapan tuh bocah, punya kucing gitu kok bangga. Lihat kucing gue dong, walau dia nggak pemilih, tapi nggak pernah makan sembarangan. Gue kasih ikan dia mau, gue kasih ayam dia mau, gue kasih kalkun dia tambah mau, gue kasih sandal,eh dia nggak mau. Pinter kan kucing gue? *Lah,kenapa bisa jadi ngomongin kucing?
“Apa benar, kucing kamu yang makan dasimu Albert?” Tanya Pak Yan curiga.
“Bener kok pak.”
“Kalau begitu, besok kamu bawa kucing kamu ke sekolah. Bapak pengen kasih dia makan dasi yang banyak.”
“Hah?” Dia terbengong-bengong mendengar respon kepala sekolah kami itu.
“Kucingnya udah mati kok Pak!” Ujar Albert menggaruk-garuk kepalanya.
“Kucingnya sudah mati atau memang kucingnya tidak pernah makan dasi kamu?” Ujar Pak Yan dengan nada meledak-ledak.
Kena lu Bert.. Makanya, jangan coba-coba untuk ngibulin Kepsek kita. Wong buaya dikadalin, mana bisa lah yaw. Kecuali kalau kadal dibuayain, mungkin baru bisa.Hihihi.
Tiba digiliran gue buat ngasih jawaban ke Kepsek kami itu,y ah gue kasih alasan yang tadi pagi. Gue sebenernya bawa, tapi gue lupa pakai aja. Kalaupun disuruh menunjukan bukti otentiknya, gue siap kok. Akhirnya gue dibiarkan kembali ke kelas tanpa pembuktian, Pak Yan memang hebat, bisa membedakan mana yang jujur dan mana yang bohong.
Gue pun bergegas kembali ke kelas, berat juga rasanya ketika naik tangga, padahal sih, kelas gue letaknya ada di lantai 2. Cuma naek sekitar 20-an anak tangga doang. Tapi, entah kenapa, sakit kepala gue yang gue entengkan tadi pagi tiba-tiba jadi masalah baru buat gue. Kepala gue ini rasanya amat berat banget, padahal gue lagi di anak tangga sekarang ini. Mata gue rasanya sangat berat sekali dan badan ini rasanya seperti mau oleng. Penglihatan gue jadi buyar dan gelap seketika.
Ketika gue bangun, gue udah berada disebuah tempat yang bisa gue pastikan, tempat ini bukanlah sekolahan gue. Apa gue udah berada di surga? Apa gue udah nggak ada lagi didunia ini.
“Lex.. Kamu udah sadar Nak?” Suara itu memanggil gue dengan suara bergetar seperti baru saja menangis.
Suara itu terdengar sangat familiar, rupanya itu adalah suara Emak gue. Bahagianya gue, gue masih hidup, sampai gue nggak bisa berkata-kata lagi. Gue langsung peluk emak gue saat itu. Emak gue  terbengong-bengong ketika gue peluk, karna nggak biasanya gue bisa peluk nyokap gue sendiri.
“Kamu kenapa bisa jatoh dari tangga sih Lex? Kamu tau nggak, Mama panik sekali ketika sekolah kamu nelfonin Mama dan ngabarin bahwa kamu dibawa kerumah sakit.”
“Alex nggak tau Ma. Tiba-tiba aja pas di tangga, Lex ngerasa kepala Lex terasa berat banget. Dan tiba-tiba aja semuanya jadi gelap. Setelah itu, Alex nggak inget lagi.”
Bapak kepala sekolah gue tiba-tiba masuk ke ruangan gue.
“Tadi Alex jatuh dari tangga Bu. Mungkin dia lagi sakit. Sebelumnya sempat upacara dan masuk barisan khusus, mungkin karna itu dia jadi kecapekan dan akhirnya jatuh dari tangga. Kami pihak sekolah sempat khawatir sekali, karna begitu jatuh dari tangga darah dari kepalanya nggak berhenti mengalir. Oleh karna itu, Alex langsung kami bawa ke rumah sakit. Untungnya ada siswa kami yang cepet nemuin Alex di tangga, kalau nggak, mungkin akan sangat fatal akibatnya.”
“Siapa Pak?.” Tanya gw masih dengan suara lemes.
Nampaknya, Pak Yan nggak ngedengerin pertanyaan gw nih. Huh.. Agak sebel juga sih.
“Kamu tahu, kamu sudah seminggu nggak sadarkan diri.” Ujar Emak gue.
“Hah?” gue bener-bener nggak percaya tentang fakta yang baru gue denger tadi. Gue udah seminggu disini dan udah nggak sadarkan diri selama itu. Dalam artian, gw koma. Bener-bener nggak dapat dipercaya, rasanya kejadiannya itu baru 5 menit yang lalu. Mungkin perasaan gue aja kali yah.
“Teman-teman kamu baru aja pulang tadi. Dari hari pertama kamu masuk rumah sakit, mereka bergantian datang menjenguk kamu. Tadi saja mereka baru keluar dari sini.”
“Oh ya Bu. Saya pamit dulu, kebetulan temen-temen Alex yang tadi, saya yang antar pakai mobil dinas sekolah. Kami harus kembali lagi ke sekolahan.”
“Baik Pak. Terima kasih karna sudah mau menjenguk alex.”
“Alex.. Kamu cepat sembuh yah supaya bisa balik lagi kesekolahan.” Pak Yan pun berlalu dari kamar rumah sakit gue dirawat ini.
Hari ini juga akhirnya gue bisa kembali ke rumah gue tercinta, tapi akibat peristiwa kemaren itu, gue mesti pake tongkat untuk saat ini.S edihnya idup gue, belum lama gue masuk sekolah, udah dapet musibah kayak gini. Sekarang gue jadi berkaki empat (diitung dengan tongkat XD). Tapi nggak apa-apa, gue udah bersyukur banget, karna gue masih dapet idup ampe saat ini. Gue masih diberkati sama yang di Atas.
Esoknya, gue udah mulai sekolah seperti biasanya lagi. Selasa pagi yang terasa lebih berwarna dari biasanya, mungkin karna gue bersyukur atas hidup yang masih Tuhan kasih buat gue. Tapi permasalahannya sekarang ini, gue kan yang biasanya ngebonceng Cece gue, nah sekarang kayak gimana? Masa gue bonceng Cece gue dengan keadaan kayak gini. Kan nggak lucu..
“Biar Randy aja Ma yang bonceng adek. Biar Silvi dibonceng sama ravel aja.”
“Serius kamu Ran?”
Nggak hanya emak gue yang heran, gue aja terbengong-bengong ama hal ini. Nggak biasanya koko gue yang satu ini baek ma gue. Tapi gue bersyukur ajalah, jika peristiwa ini bisa mendekatkan gue ama dia. Karna, hubungan gue ama koko gue kan nggak begitu baik selama ini.

Jumat, 20 Mei 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 26)

Semua menatap kearah gw sambil dengan muka bertanya-tanya, gw bakal nyanyi lagu apa. Beuh.. Malu pisan euy. Gw aja ampe nggak bisa berkata-kata lagi begitu musik instrument itu menggema. Gw seperti nggak kenal lagunya, apa salah puter lagu yah. Ternyata nggak tuh, gw hanya bisa bercucuran air mata dalam hati. Mau nggak mau, ini tetep harus gue lanjutin.
“Sabtu malam ku sendiri… Tiada teman kunanti.. Disekitar kulihat dia, tiada seindah dulu. Mungkinkah ini berarti, aku tlah patah hati. Walaupun kuberkata bukan, bukan itu. Penyesalanku semakin dalam dan sedih, tlah kuserahkan semua milik dan hidupku.. Aku tak mau menderita begini. Mudah-Mudahan ini, hanya mimpi, hanya mimpi.”
Itulah lagu yang gw nyanyiin, Kisah Sedih Di Hari Minggu nya Koes plus. Entah ada apa dipikiran gw saat itu, sampe-sampe milih lagu ini. Benar-benar tak dapat dipercayai, dari sekian banyak lagu popular dan hits dimasa sekarang, gw malah milih lagu itu. Akhirnya, setelah gw selesai, rasa deg-degan itu perlahan pudar. Gw udah nggak peduli lagi dengan hasilnya akan kayak gimana. Yang penting gw udah berpartisipasi dalam acara ini. Masalah menang atau nggaknya, yah serahkan pada yang diatas. Hihihi..
Lumayanlah, ketika gw turun dari panggung, ada yang ngasih komentar positif. Tapi, ujungnya itu yang bikin ngenes. Kenapa mesti pake kata tapi sih.. *Uring-uringan
“Keren lo suara lu lex.. Gw suka banget, tapi… Kenapa lagunya jadul banget. Serasa om-om yang nyanyi kalau pake lagu itu. ”
Padahalkan, gw udah seneng dipuji gitu, tapi akhirnya endingnya itu bikin darah mendidih dan bergejolak dalam kulit. Ckckck.. Setelah dari lomba ini, selanjutnya, ada lomba tarik tambang antarkelas. Tentunya yang dipilih adalah orang-orang yang bertubuh kerempeng dan kecil dong. Eh.. Salah yah, yang bener, yang kekar dan bertubuh besar. Yah begitulah, tentunya gw nggak bakal dipilih. Hufh *Nasib orang tampan yang teraniaya.
Tapi setelah gw lirik-lirik dikelas gw, selain gw juga banyak yang cungkring lo, suer dah yakin. Yang badannya lumayan berisi cuma beberapa aja. Kalau yang cewek, ada si Santalia, Hanni, Leonawati, Lieta, Maya Jane, Yuliana B (sebenernya ada 2 yuliana, cuma biar gampang dipanggil, mereka berdua dikasih embel-embel “A” dan “B”, efek nama pasaran nih, untung di kelas gw nggak ada nama yang sama kayak gw), dan Liliawati (biasa dipanggil apho, panggilan apho diberikan ke Lilia, karna kalau dia ngomong suka cerewet kayak nenek-nenek). Kalau yang cowok ada si Irwan , Reo, Alvin, Fendy, Vicko, Jefry, Candra Usin. Yah.. Itu doang sih, jumlah cowok dikelas gw sangat limited edition (jumlahnya setengah dari jumlah cewek). Dan akhirnya, nama-nama yang gw sebut diataslah  yang pada akhirnya mewakili kelas gue dikancah pertariktambangan.
Lawan pertama kami adalah melawan kelas 1 AP. Lawannya lumayan mudah kali ini. Karna anak AP bahkan cowoknya Cuma 5 orang. Kelas gw udah tersenyum nyengir aja.
“Jah.. Kelas 1 AP. Kita beruntung kali ini.” Ujar Alvin bengek.
“Jangan meremehkan lawan. Ingat.. Tetep fokus.” Ujar Jefry sok bijak.
“Sok bijak lu mah Jef.”
“Dibilangin ngeyel.”
“Bukannya ngeyel, tapi ini sesuai dengan fakta.”
“Fakta apanya? Faktanya tuh, emang kita lebih berpeluang daripada mereka.”
“Gw nggak bilang kalau mereka lebih berpeluang dari kita, gw hanya bilang kalau kita tuh nggak boleh ngeremehin lawan, untuk itu kita harus tetep fokus.”
Kami pada nyengir-nyengir aja mendengar perdebatan Alvin ma Jefry yang sebenernya nggak penting ini, begini nih kalau keduanya udah ketemu, kayak kucing ma anjing, Alvin orangnya mana keras kepala lagi, nah si Jefry juga kepala batu, cocok dah keduanya bila ketemu, langsung ribut dan debat gaje.
Perlombaan dimulai..
“Siapp.. Yah…” Ujar panitia tanda memulai perlombaan.
“Tarik .. Tarik.. Tarik..”
Suasananya bener-bener rame, apalagi kelas gw, dengan kompak semuanya ngumpul disitu jadi satu buat mensupport tim 1 AK1. Ini lomba tarik tambang campuran, jadi cowok cewek disatukan disini. Santalia terlihat  dengan begitu gagahnya terus menarik talinya, yang lain juga demikian. gw dan temen-temen yang laen bahkan hambir kehabisan suara saat teriak-teriak serasa gw ikutan narik tuh tali. Dan akhirnya, 1 AP menyerah dan harus takluk dengan kelas gw. Yang laen pada jingkrak-jingkrak begitu menang, serasa dapet hadiah mobil dan rumah dari undian Bank. Hihihi.. Selanjutnya, lawan kami di babak selanjutnya adalah 2 AP. Kenapa dapet lawannya sama kelas AP  terus yah? Tapi baguslah jadi bisa menang terus *Ngarep
Tim AP kali ini jauh lebih gahar dari tim sebelumnya, mereka nampak terobsesi untuk menang, apalagi mereka baru mengalahkan kelas 2PJ1, namun jangan khawatir kita orang juga nggak mau kalah dong. Harus tetap optimis menang.
“Perlombaan kembali dimulai, terjadi lirik-lirikan dari kedua kubu. Ekspresi kedua tim begitu serius, apakah mereka akan mengerahkan kekuatan jiwa dan raga serta nurani mereka untuk pertandingan kali ini? Kita lihat saja hasil selengkapnya menuju lapangan.” Ujar sang panitia mengomentari pertandingan.
Sementara itu, gw lihat kelas gw semakin terdesak digaris batas. Tim 2 AP semakin membabibuta menarik talinya, namun dikubu gw terlihat sudah hampir menyerah.
“Chayo… Semangat… Semangat… Semangat…”
Kata-kata ini terus menggema untuk mendukung kelas gw. Semangat mulai mengalir dalam darah dan denyut nadi mereka. Secara perlahan, keadaan mulai berbalik, satu persatu langkah mereka mulai menarik langkah lawannya kedepan. Dan tiba pada klimaksnya, mereka berhasil menang lagi. Kelas gw emang kompak dan merupakan kelas terbaik, tentunya buat kelas gue sendiri. Hehehe..
Sungguh melelahkan sekaligus mengasyikkan bisa teriak seperti itu. Walau suara tinggal seuprit, tapi seneng juga. Karna pada akhirnya, tim kelas gw berhasil menang dipertandingan kali ini dan keluar sebagai juara pertama setelah mengalahkan kelas-kelas lainnya. Ibu Delfi yang menyaksikan tim kelas kami bertanding juga terlihat senang, walau hal itu tidak dia ekspresikan secara lepas, namun terlihat, Ia begitu bangga dengan kami.
Perjuangan kelas kami belum berakhir, masih ada beberapa pertandingan lainnya. Dan kami akan berusaha memberikan yang terbaik, walau mungkin tidak menang, namun asalkan sudah ikutan, rasa sukacita itu tidak akan hilang. Gw bangga jadi salah satu bagian dari mereka, walau mereka belum tentu bangga ama gw. Hihihi..
Hari perlombaan selesai, dan hasil dari setiap perlombaan pun diumumkan. Kelas gue hanya memenangkan lomba tariktambang doang, karna dari lomba nyanyi, gw juga nggak menang. Karna udah bisa dipastikan,lewat penampilan gue nan jadul serta busana yang kalah keren sama peserta lainnya, yah nggak bakal menang.Komentar salah satu juri yang nyatain
“Ada peserta yang suaranya bagus, namun, karena penampilannya yang kurang dan pemilihan lagunya yang kurang pas juga, maka dia tidak bisa masuk ke daftar pemenang. Karna dari sisi juri sendiri, 3 aspek yang dinilai. Pertama, vokal, kedua Busana atau penampilan dan terakhir adalah Peformance.”
Mungkin gw yang kegeeran kali yah, kalau yang dimaksud itu adalah gw. Hehe.. Tapi apapun hasilnya, gw juga nggak pernah berharap banyak *ngeles
Akhirnya, setelah kegiatan tahunan itu, kegiatan belajar kami kembali ke habitatnya. Belajar lagi dan lagi.. Hari pertama adalah hari senin, yang tentunya bagi sebagian besar adalah hari yang tidak mengenakkan, karna mesti upacara panas-panasan di lapangan. Jangan ditiru deh hal ini, karna kita harus ngehargain juga jasa para pahlawan kita yang telah gugur dimedan perang, dan berkat mereka juga kita bisa merdeka seperti sekarang ini. Upacara sih, sebenernya nggak masalah buat gw dan mungkin juga, tapi panasnya itu lo yang bikin semaput dan kejang-kejang, dan tiap upacara pasti ada aja yang pingsan ataupun pura-pura sakit atau melarikan diri secara diam-diam dari barisan pas bagian mengheningkan cipta, dasar anak ababil sekarang memang keterlaluan.
Bel akhirnya berbunyi, kelas gw mendadak rame, 5 menit bel berbunyi, tapi belum satupun berangkat menuju lapangan upacara, termasuk juga gw. Masih sibuk pake topi dan ngerapiin dasi, ada juga yang sibuk nyari pinjeman topi, karna yang nggak berseragam lengkap plus atributnya, pastilah bakal berdiri dibarisan khusus, dan nantinya pasti bakal nerima hukuman juga. Gw sih santai aja, karna pastilah gw nggak bakalan lupa ma atribut-atribut gw. Tapi entah kenapa, hari ini gw agak pusing, sedikit sih dan nggak sakit juga, tapi panasnya pagi ini sukses membuat gw malas beranjak dari kelas. Satu persatu, temen-temen gw yang lain akhirnya mulai bergerak menuju lapangan upacara,apalagi,Pak Ibrahim sudah ngoceh-ngoceh daritadi karna skami yang digedung A belum baris juga dilapangan. Dengan terpaksa, gw juga akhirnya memaksakan tubuh ini untuk bergerak turun kebawah. Sementara gw lihat, dikelas gw ada beberapa anak yang santai-santai aja dikelas dengan niatan nggak mau ikutan upacara kali, begitupun dengan kelas sebelah gw. Untungnya, gw nggak tergoda untuk ikut-ikutan hal yang kurang terpuji ini #Halah, bahasanya gw.
Sesampainya dibawah, udah rame sekali, kelas lain udah berbaris dengan rapi, sementara kelas gw baru mau bikin barisan. Kali ini, Kepala Sekolah kami turun tangan langsung untuk mengatur barisan, semuanya dengan cepat berbaris menuju barisannya masing-masing, karna takut akan berurusan dengan Pak Yan kami yang tegas dan galak ini. Hehe.. Secara sekilas, Pak Yan memantau langsung atribut para siswanya. Karna, terkadang ada beberapa siswa nakal yang nggak mau masuk barisan khusus itu dan bersembunyi diantara barisan yang berjubel.
“Alex…”
Seseorang terdengar manggil nama gw, tapi gw nggak begitu ngeh siapa yang manggil gw. Gw celingk-celinguk nengok kanan dan kiri (siapa tahu ada pohon cemara, kiri kanan…. Kulihat saja…yah malah nyanyi).
“Alex…”
Suara itu makin kuat terdengar. Dan begitu menoleh kebelakang. Gw dapati Pak Yan dengan mata melototnya ngelihat gw.
“Kenapa Pak?” Ujar gw polos.
“Mana dasimu?”
“Ada kok Pak.”
“Mana?”
Gw pun ngelirik kearah seragam gw, dan ternyata benar adanya, gw nggak pake dasi, mungkin akibat kepala gw yang sedikit pusing tadi makanya gw kelupaan. Cilaka lah ini… Gaswat..
“Masuk ke barisan khusus.”

Minggu, 15 Mei 2011

WARNA-WARNI KISAH PUTIH ABU-ABUKU (JILID # 25)



Sebuah kue ulang tahun betahtakan banyak lilin dibawa Ibu Delfi masuk. Gw lihat ekspresi wajah Vicko datar saja. Dia seolah nggak menyadari sedang dikerjain oleh kami semua. Yah.. Ini semua hanyalah akting saja. Karna kami nggak bisa jadi pemain sinetron, ya lumayanlah mengekspresikannya melalui ini *sedihnya.
“Ini apa maksudnya Bu?” Tanya Vicko.
“Kamu ini.. Hari ini kan hari ulang tahun kamu.” Jawab Ibu Delfi lagi.
“Hah? Hari ini saya ulang tahun?” Tanya vicko dengan penuh keterkejutan.
“Hah hari ini kamu tidak ulang tahun?” Tanya Bu Delfi dengan ekspresi terkejut yang tak kalah hebohnya dengan wajah Vicko.
Sumpah.. Ngakak gw ngelihat ekspresi dua anak manusia ini, saling bertanya dengan ekspresi menakjubkan. Hal ini tentu saja menggegerkan seisi kelas. Karna ternyata, ulang tahun Vicko itu sebulan yang lalu. Bukan hari ini. Ada-ada saja nih orang yang ngusulin, bikin repot seisi kelas aja. Tapi nggak apa-apa, niat baik orang itu harus dihargai, yang penting kan menunjukkan kepedulian kita pada temen kita, iya nggak? *angguk-angguk aja yah..kedip-kedip genit
Akhirnya pesta ulang tahun itu tetap terlaksana untuk menghargai itikad baik seseorang yang dirahasiakan namanya itu. Hihihii.. Tapi lumayan kocak sih, untuk pelipur lara dikala jenuh mendera (jiah.. Kok bisa gue nulis indah gini yah, nangis terharu).
Dan pada akhirnya terpilihlah orang-orang yang akan dikirim jadi TKW ke negeri jiran, lho ? Nggak deh, maksudnya, terpilihlah siswa dan siswi yang akan mewakili kelas 1AK1 ke perlombaan antarkelas. Dan gue kepilih sebagai salah satu peserta dalam perlombaan solo singing competition. Padahal ngomong aja udah cempreng, apalagi kalau mesti nyanyi, bisa-bisa roboh dah gedung sekolah gw ketika gw membuka mulut (baru buka mulut doang, belum nyanyi lo, sedihnya T.T )
Keesokannya..
Kelas gue sibuk ngehias kelas dalam rangka lomba keindahan dan kebersihan antar kelas,dan tau nggak, modalnya yah dari kelas masing-masing. Alhasil seluruh siswa dikelas gue disuruh mensubsidikan sejumlah uang jajannya untuk membeli beberapa keperluan tersebut. Dan eng ing eng.. Kata Ibu Delfi, yang udah ikut PBB dalam rangka 17 agustus kemaren nggak usah ikut nyumbang dana \^,^/ wah senangnya diriku.. *Nari-nari uler
Karna sebagian besar yang lain sibuk ngehias kelas, gw malah keluyuran ke kelas 1 PJ 2 lagi (Masih ingatkah insiden gue dikelas ini kemaren?), pas nyampe dikelas ini, gw langsung ngomong ke Asan, temen SMP gw itu lo.
“Ya ampun.. Kelas lu norak banget sih. Pake ada tali pita-pitanya gitu. Pake ada balon gede lagi tengah-tengahnya. Emang ada acara ulang tahun yah?” Ujar gw terkekeh.
“Wah.. Parah lu Lex. Ngehina kelas gw yah?” Ujarnya becanda tapi serius (gimana caranya yah?)
“Nggak.. gw cuma komen aja kok. Ini kan demi kebaikan kelas lu.”
Pas gw bicara kayak gitu, siswa dan siswi kelas 1PJ2 langsung liatin gw semua.
“Hehe.. gw cuma becanda kok, Jangan peduliin yah, silahkan kembali kerja.”
Gw pun langsung pamit dan dengan secepat siput gw kembali ke kelas gw lagi. Dan pas sampai ke kelas, gue juga lihat sesuatu yang kayaknya baru aja gw lihat, gw mikir-mikir, dan semakin dipikir-pikir, makin buat gw ngerasa dapet karma, sesuatu itu ternyata adalah balon gede yang mirip dengan yang ada di kelas 1pj2 tadi, dimana ia tergantung dengan unyu dan manisnya dikelas gue (-,-“) Haiss.. Bisa-bisanya gw ngatain kelas orang norak, padahal dikelas gw juga tergantung balon gede itu. Nanti-nanti nggak mau lagi lah ngata-ngatain kayak gitu, entar jadi bumerang lagi bagi diri sendiri, yah ,kalau ingat sih. Kalau nggak ingat, yah berlanjut lagi. Hihihii
Siang ini, hujan kembali turun membasahi Bangka tercinta gw ini, rintik-rintik ujan terus jatoh silih berganti, saling beradu antara satu dengan yang lainnya. Dan gw kembali melihat sosok itu lagi, sosok cewek yang waktu itu numpahin tekwan panas dikantin. Aling.. Oh aling.. Wajahnya yang putih bersih dengan lesung pipit menukik tajam dikedua pipinya (bagi dikit kek ke gw). She looks beautiful.. Hmm.. Nggak boleh .. Nggak boleh.. Gw harus tetep mempertahankan kesetiaan cinta gw ama Shely. Nggak boleh segampang ini jatuh cinta ama cewek laen. Gw segera berniat masuk ke kelas lagi, entar kalau lama-lama disini, getaran itu malah semakin kencang dan kencang lagi. Bahaya euy.. Bikin cenat-cenut kepala aja.
Baru mau masuk ke kelas, suara yang tak asing itu terdengar memanggil namaku.
“Alex…”
Gue berbalik menghadap kebelakang. Dan benar adanya, sosok Aling nampak dalam penglihatan gw. Ia tersenyum dengan sangat manis, nggak kuat lagi rasanya hati gw ini, rasa-rasanya udah mau meleleh (Es kaliii). Kali ini, dia menghampiri gw.
“Hai lex.. Gimana kabarnya tangan lu?’’
Jiah.. Malah nanyain tangan gw, tanyain hati gw dong sekalian.. Hihii.
“Tangan gw nggak bisa ngomong Ling.. Jadi nggak tau apa dia udah ngerasa baikan apa belum?”
“Mau ngomong nggak tangan lu ma tangan gw?”
“Gimana caranya? Emang bisa gitu?”
“Bisa dong.”
“Gimana caranya coba?”
“Neh” Ujarnya mukul tangan gw.
“Elu tega banget sih mukulin tangan gw segala.” Ujar gw masang tampang super cute.
Dia langsung ketawa ngakak ngelihat ekspresi gw yang super cute ini. Akhirnya gw jadi ikut ketawa juga, acting gw berhasil sebagai orang super cute, cocoknya peran apa yah kalau maen film? Hmmm..
“Gw udah baikan kok,berkat lu juga sih.”
“Ahhh.. Gue kan jadi mayuu..” Ujarnya menggigit-gigit jari.
“Jangan digigit jarinya.. Nggak enak itu. Mau yang enak?”
“Apaan emangnya? Gigit jari kaki gw aja.”
“Dasar jorok lu.”
“Hahaha.. Abisnya, maenan lu jari sih. Coba kalau maenan lu golok atau gergaji, kan lebih keren.”
“Ide bagus tuh. Gw bisa menggergaji tubuh lu, terus potongan tubuh lu bakal gw kubur disuatu tempat yang orang-orang nggak bakal pernah nemuinnya.”
“Parahhh.. Masa gw mau dimutilasi.”
“Abisnya lu ngeledek gw sih. Hahaha, lu pinter ngeles lagi.. Hmm.. Mulai sekarang, gw panggil elu pigel aja yah.”
“Kok manggil gue pigel? kayak nama babi. Emang apaan tuh Pigel?”Tanya gw penasaran.
“Pigel itu pinter ngeles.”
“Aneh bener.. Kalau gitu, lu bakal gue panggil ‘Kemiri’ aja deh.”
“Kalau kemiri apaan emangnya?”
“Kemilau Miss jari.”
“Apa-apaan itu.” Ujar Aling terkekeh lagi.
Mulai saat itu, resmilah panggilan aneh itu melekat pada panggilan kami satu sama lain.
***
HARI PERLOMBAAN
Gw masih bingung buat nentuin lagu perlombaan “SOLO SINGING”. Sama sekali nggak ada persiapan karna lombanya juga mendadak banget. Jadilah, pada waktu malamnya itu, gw kelabakan memilah-milih lagu yang akan dinyanyikan untuk lomba hari ini. Gw nanya-nanyu tuh ama Emak gw, eh malah Emak gw bilang nggak tahu. Padahal gw nanya ke Beliau kan karna Emak gw itu mantan vokalis band, wuidih, keren yah. Hihihi…
Saking pusingnya gw nyari lagu, akhirnya gue nekad ngambil sebuah lagu popular dan terkenal pada zamannya tersebut.
Dari segi pakaian pun gw tampil ada apanya, eh maksudnya apa adanya. Simple banget malah, gw cuma makai seragam sekolah doang, padahal gw lihat kontestan lain pakaiannya oke-oke semua. Nambah minderan dah gw. Deg-degan semakin mendera dan akhirnya menguasai jiwa dan batin ini. Keringat dingin terus mengucur deras seperti air terjun *halah..
Gw berdiri dibelakang panggung yang telah disiapkan. Beberapa anak dikelas gue mulai menggoda.
“Cie.. Cie.. Yang mau nyanyi.”
“Ada penyanyi dadakan nih. Yihaaa..”
Gw nggak mau nanggepin, karna jantung gw udah terlanjur berdebar-debar tak karuan, serasa baru maen jeatcoster (bener nggak nulisnya? Hihihi). Dan.. Saat-saat yang tak gw harepin tiba juga. Nama gw akhirnya dipanggil juga.
“Kepada Alexander 1AK1 dipersilahkan tampil kedepan.”
Gw sedikit ngambil ancang-ancang dan akhirnya naik kepanggung. Dan didepan gw juga udah berdiri ii (panggilan untuk adik cewek nyokap gw) dan juga ada Koko dan Cece gw. Mereka juga terlihat berdebar menanti penampilan gw kayaknya. Moga-moga aja nggak malu-maluin mereka, dan diri gw sendiri tentunya. Saat itu juga gw kepikiran buat ganti lagu setelah mendengar kontestan-kontestan lain nyanyiin lagu-lagu populer, tapi takdir berkehendak lain. Jodoh gue rupanya yah dengan lagu itu, alunan instrument mulai kedengeran. Yah.. Itu lagu instrument nyanyian gw. Bunyi nadanya jadul banget, pipi gue udah memerah saat itu karna merasa sedikit malu. Bener-bener jadul instrument musiknya.